Al Qur’an Di Mata Salafy [2]

Pada bagian pertama, satria sudah menyebutkan bahwa “adanya perubahan Al Qur’an” adalah keyakinan yang sifatnya aksiomatis di dalam mahzab salafy. Tentu saja ini bukan sekedar tuduhan kosong belaka, karena banyak kitab mu’tabar mahzab salafy telah menyebutkan hadis-hadis tentang perubahan dalam Al Qur’an. Hadis-hadis tersebut bukan sembarang hadis tetapi hadis yang shahih dimana menunjukkan dengan nyata kepada kita semua bahwa Sahabat Nabi generasi terbaik pujaan kaum salafy an nashibi telah meyakini adanya tahrif Al Qur’anul Karim. Naudzubillah.

Sebenarnya memang menyakitkan memberitahukan hal ini kepada teman-teman dan saudara pembaca yang salafy. Tetapi satria yakin kebenaran itu walaupun pahit tetap berharga untuk disampaikan. Bagi teman-teman salafy tentu saja sudah menjadi aksiomatis bahwa aqidah atau keyakinan dan ibadah hendaknya berdasarkan Al Qur’anul Karim dan Al hadis berdasarkan pemahaman Sahabat Nabi sebagai penghulu kaum Salaf. Jadi sudah tentu jika sahabat Nabi sendiri meyakini adanya perubahan dalam Al Qur’an maka sudah seharusnya seorang salafy sejati mengikuti aqidah sahabat tersebut.

Dalam kitab Fadhail Al Qur’an oleh Abu Ubaid Qasim bin Sallam jilid 2 hal 135 disebutkan riwayat
Ismail bin Ibrahim menceritakan hadis kepada kami dari Ayub dari Nafi dari Ibnu Umar yang berkata “Janganlah ada di antara kalian yang mengatakan “aku telah menemukan seluruh Al Qur’an”. Apakah ia benar-benar tahu seluruh Al Qur’an itu? Karena telah banyak Al Qur’an yang hilang. Oleh karena itu seharusnya orang mengatakan “aku telah menemukan Al Qur’an yang tampak saja”

Hadis ini ternyata juga dimuat oleh para Ulama tafsir kenamaan Salafy seperti Jalaludin As Suyuthi dalam Tafsir Durr Al Mansur jilid 1 hal 106 dan Al Alusi dalam Ruhul Ma’ani jilid 1 hal 25.

Hadis diatas disampaikan oleh para perawi yang terpercaya sampai ke Ibnu Umar sehingga tidak diragukan lagi kalau Ibnu Umar benar-benar mengucapkannya. Inilah para perawi hadis tersebut

Ismail bin Ibrahim telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib At Tahzib jilid 1 hal 90 dan dinyatakan sebagai hujjah oleh Dzahabi dalam kitab Kashif jilid 1 hal 242

Ayub bin Abi Tamimah Al Sakhtiani disebutkan oleh Ibnu Hajar sebagai tsiqah,tsabit dan hujjah dalam kitab Taqrib jilid 1 hal 116

Nafi’ maula Ibnu Umar disebutkan Ibnu Hajar sebagai tsiqah, tsabit dalam kitab Taqrib jilid 2 hal 239.

Ibnu Umar adalah sahabat Nabi, yang dalam aqidah mahzab salafy adalah adil dan dijadikan hujjah perkataannya.

Maka dari itu sudah seharusnya seorang salafy sejati meyakini bahwa sudah banyak Al Qur’an yang hilang dan Al Qur’an yang ada sekarang hanyalah apa yang tampak saja. Aqidah ini diyakini oleh sahabat yang adil Ibnu Umar . Beliau juga mengajarkan kepada orang-orang agar meyakini hal tersebut.

Memang ada saja orang-orang nyeleneh yang menyimpang dari mahzab salafy, mereka menentang aqidah Ibnu Umar dan mengatakan kalau sebenarnya Al Qur’an banyak yang dimaksud itu adalah sudah dinasakh sehingga yang ada adalah yang Nampak sekarang. Sudah jelas hal ini menyimpang dari aqidah penghulu salaf Ibnu Umar, dalam hadis di atas ia tidak mengatakan Al Qur’an tersebut dinasakh, tetapi ia berkata “dzahab”. Dalam bahasa Arab dzahab berarti hilang, artinya sesuatu yang ada kemudian menjadi tidak ada dan tidak tahu kemana perginya. Lagipula kalau memang yang dimaksud Ibnu Umar adalah nasakh maka tentu ia akan mengatakan “telah banyak Al Qur’an dinasakh” bukan “telah banyak al Qur’an hilang” .

Selain itu jika ada ayat Al Qur’an yang dinasakh sehingga tidak berlaku lagi maka ayat itu bukan lagi Al Qur’an sehingga Al Qur’an yang ada sekarang tetap adalah seluruh Al Qur’an. Jadi Ibnu Umar tidak perlu merasa gusar jika ada yang mengatakan “tahu seluruh al Qur’an”. Tetapi hadis di atas justru mengatakan Ibnu Umar menentang orang yang mengatakan tahu seluruh Al Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa menurut Aqidah Ibnu Umar banyak Al Qur’an yang sudah hilang sehingga tidak pantas seseorang mengaku tahu keseluruhan Al Qur’an. Ini membuktikan kalau Ibnu Umar tidak bicara soal nasakh. Oleh karena itu perkataan nasakh adalah aqidah bid’ah yang menyimpang dari mahzab salafy.

Satu Tanggapan

  1. Keterlaluan kalau masih ada yang berfikir (mengimani) bahwa ada al-Qur’an versi syi’ah. Jika maksudnya adalah ingin mediskreditkan syi’ah, maka pada saat yg bersamaan mereka terpaksa harus mengingkari (tdk mengimani) ayat yang menyatakan bahwa Allah yg akan menjaga al-Qur’an.
    Saya menanggapi hadits yang mendukung konsep tsb sbb:

    1. Yang menyatakan al-Qur’an ada ayat2nya yang hilang adalah mereka (sahabat) yang tidak hafal al_qur’an.
    2. Jenis hadits sperti di atas (Ibnu Umar), hadits ini salah jika ditafsirkan sbg adanya ayat2 yang hilang. Hadits ini bagi saya merupakan kalimat metafora. Yang maksudnya adalah semakin berkurangnya (telah hilangnya) ahli2 al-Qur’an yang mengerti betul (tafsir/makna) al-Qur’an tsb.

    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: