Siapa Bersama Nabi Saat Hijrah?

Sebagian salafy nashibi hari ini meyakini kalau dusta dihalalkan jika dilakukan demi menyerang mahzab Ahlul Bait. Tidak lain dan tidak bukan sifat buruk ini didasari kebencian yang mendalam dengan Ahlul Bait dan pengikutnya. Inilah sifat asli hakekat.com nashibi sejati, dengan dalih mencintai Abu bakar ia berdusta atas nama Syiah. Apakah benar hakekat cintanya pada Abu bakar atau tersembunyi kebencian yang terselubung? Simak baik-baik makalah ini.

Cinta memang membuat mata jadi buta, membuat telinga jadi tuli, membuat hati jadi bebal, membuat pikiran berhenti bekerja. Akhirnya cinta menguasai diri dan membuat tak sadar diri, berjalan tanpa arah. Begitulah hakekat.com yang katanya mencintai Abu bakar, tapi cinta itu berubah menjadi pembelaan membabi-buta tersesat tanpa arah. Keinginannya untuk memuja-muja Abu bakar tidak terpuaskan oleh literature kitab pegangannya sehingga perlu baginya untuk mencari-cari di kitab Syiah. Cih betapa dungunya, ketika ia tidak menemukan secuilpun keutamaan Abu bakar dalam literature Syiah maka ia membuat kepalsuan untuk memenuhi nafsunya.

Begitu juga benci, bisa membuat mata jadi buta, membuat telinga jadi tuli, membuat hati jadi bebal, membuat orang tidak lagi mau berpikir dengan akalnya yang sehat. Kadang orang yang ditutupi oleh rasa benci kita katakan sebagai tidak punya akal. Sebenarnya dia punya akal, hanya saja akalnya sedang tidak digunakan. Begitulah hakekat.com kebenciannya yang selangit kepada Ahlul bait membuatnya tidak rela kalau nama Ahlul bait membumbung tinggi. Nafsu telah menguasai jalan pikirannya untuk mengangkat tinggi orang pujaannya demi menutupi ketinggian Ahlul bait.

Huh betapa dungunya orang yang merasa sok tahu akan rumah orang tetapi tidak tahu hakikat rumah sendiri. Hakekat.com seharusnya belajar banyak membaca kitab literaturnya sendiri sebelum membaca literature orang lain, bodohnya ternyata hakekat.com tidak tahu kalau kalau kitab literaturnya sendiri telah merendahkan Abu bakar tokoh pujaan hatinya.

Hakekat.com nashibi salafi sangat membenci Imam Ali [alaihissalam], karena ia tidak rela dengan keutamaan Imam Ali yang lebih tinggi jauh di atas pujaan hatinya abu bakar. Kebencian ini merupakan implikasi dari mahzab nasibi yang dianutnya. Abubakar sebagai khalifah setelah Nabi wafat, maka menurutnya wajar jika abu bakar harus paling utama, karena dia lah yang menduduki kursi menggantikan Nabi sebagai orang paling mulia. Tetapi betapa terkejutnya ia ketika mengetahui justru Imam Ali merupakan Ahlul bait dengan keutamaan yang tinggi melebihi Abu bakar dan betapa shock dirinya ketika mengetahui abu bakar hanyalah seorang perampas kekhalifahan. Nafsu telah menguasai akalnya, ia menjadi kalap dan benci dengan mereka yang tidak mengakui tokoh pujaannya hingga akhirnya kebencian itu membuat matanya buta, membuat telinganya tidak lagi mampu mendengar nasehat, membuat otaknya tidak lagi digunakan untuk berpikir, atau barangkali seperti dalam istilah komputer, hang.

Pikiran error membuat mata jadi error juga atau sebenarnya hatinya ikut-ikutan error. Ketika hakekat.com menafsirkan surat At Taubah

Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:40).

Hakekat.com yang sedang error membual

Tak disangka dan tak dirkira, ternyata peristiwa hijrah Nabi beserta Abubakar tercantum dalam kitab-kitab syi’ah sendiri. Tetapi karena hati mereka dibakar emosi dan rasa benci, yang jika tidak dilampiaskan bisa berakibat buruk –kira-kira begitu kata ahli jiwa-, akhirnya mereka sibuk melampiaskan kebencian mereka pada Abubakar, hingga tidak sempat membaca kitab-kitab mereka sendiri.

Cih maling teriak maling, padahal diri sendiri yang penuh kebencian malah balik menuduh orang lain. huh dengan sombong ia mengatakan kalau syiah tidak membaca kitab mereka sendiri. Alangkah naïf, kalau bukan kami yang membaca lalu siapa? Nashibi seperti hakekat.com, sungguh mustahil karena nashibi tidak akan tahan membaca nama-nama Ahlul bait yang mulia. Hakekat.com tidak lebih seorang pendusta sok. Ia mengaku membaca kitab Syiah tetapi faktanya banyak sekali bukti kalau ia salah membaca, tidak membaca dengan benar atau benar-benar tidak membaca.

Mari pembaca yang terhormat kita lihat kepalsuan hakekat.com mengutip Tafsir Imam Hasan Al Askari hal 467-468 , yang menceritakan peristiwa hijrah, setelah Nabi meminta Ali untuk tidur di tempat tidurnya, Nabi berkata pada Abubakar:

ثم قال رسول الله صلى الله عليه وآله لابى بكر : أرضيت أن تكون معي يا أبابكر تطلب كما اطلب ، وتعرف بأنك أنت الذي تحملني على ماأدعيه ، فتحمل عني أنواع العذاب ؟ قال أبوبكر : يا رسول الله أما أنا لو عشت عمر الدنيا أعذب في جميعها أشد عذاب لا ينزل علي موت مريح ، ولا فرج متيح وكان في ذلك محبتك لكان ذلك أحب إلي من أن أتنعم فيها وأنا مالك لجميع ممالك ملوكها في مخالفتك ، وهل أنا ومالي وولدي إلا فداؤك ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وآله : لا جرم إن اطلع الله على قلبك ووجد ما فيه موافقا لما جرى على لسانك ، جعلك مني بمنزلة السمع والبصر والرأس من الجسد ، وبمنزلة الروح من البدن ، كعلي الذي هو مني كذلك ، وعلي فوق ذلك لزيادة فضائله وشريف خصاله . يا أبابكر إن من عاهد الله ثم لم ينكث ولم يغير ، ولم يبدل ولم يحسد من قد أبانه الله بالتفضيل فهو معنا في الرفيق الاعلى ، وإذا أنت مضيت على طريقة يحبها منك ربك ، ولم تتبعها بما يسخطه ، ووافيته بها إذا بعثك بين يديه ، كنت لولاية الله مستحقا ، ولمرافقتنا في تلك الجنان مستوجبا .

Kemudian Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] berkata kepada Abubakar : “Apakah engkau rela menyeru sebagaimana aku menyeru, berdakwah sebagaimana aku, dan menahan siksaan sebagaimana aku ?”. Abubakar berkata : “Wahai Rasulullah, jika aku hidup seumur dunia dan tersiksa dengan pedih, dimana tidak ada kematian  dan tidak pula ada kesenangan, jika semua itu karena mencintai anda, maka hal itu lebih aku sukai daripada hidup dalam kenikmatan dan menjadi penguasa bagi semua kerajaan dan menentangmu. diriku, hartaku, dan anak-anakku menjadi tebusan bagi anda”. Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] berkata kepadanya : “Tidak diragukan bahwa Allah mengetahui hatimu yang sesuai dengan lisanmu. Kedudukanmu di sisiku bagaikan kedudukan telinga, mata dan kepala bagi tubuh, dan bagaikan kedudukan nyawa atas badan. Demikian pula Ali memiliki kedudukan seperti itu di sisiku, bahkan lebih dari itu dengan kelebihan keutamaannya dan kemuliaannya. Wahai Abubakar, jika seseorang telah berjanji kepada Allah, kemudian ia tidak melanggar dan merusaknya, tidak mengubah dan tidak hasad kepada orang yang telah Allah tetapkan keutamaannya, maka akan bersama kami dalam kedudukan tertinggi. Jika kau melewati jalan yang Allah inginkan, dan tidak mengikuti apa-apa yang Allah benci, dan setia atas keputusan-Nya, maka kau berhak berada dalam wilayah Allah dan berada di Syurga bersama kami”

Perhatikanlah wahai pembaca yang budiman, hakekat.com tidak menulis secara sempurna apa tepatnya yang dikatakan Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] kepada Abu bakar. Hakekat.com pendusta ini hanya mengutip apa yang sesuai nafsunya semata tetapi meninggalkan apa yang tidak disukainya. Tulisan yang satria cetak tebal tidak secuilpun ditulis hakekat.com si pendusta.

Jelas sudah, Nabi meminta Ali untuk tidur di kamarnya, dan mengajak Abubakar untuk berangkat hijrah. Saat mengajak, Nabi tak lupa menjelaskan konsekuensi menemani Nabi berhijrah, yaitu ikut dicari-cari oleh musuh, terancam disiksa oleh musuh dengan siksa yang pedih. Ternyata Abubakar mengaku kalau ia siap, siap mengorbankan diri, keluarga dan hartanya demi kecintaan pada Rasulullah. Abubakar siap disiksa seumur hidup demi kecintaan pada Rasul. Siap hidup menderita demi cintanya. Begitulah pengakuannya tetapi pengakuan hanyalah pengakuan.

Kemudian Rasulullah menerima wahyu dari Allah, bahwa Allah menetapkan kemuliaan yang sangat tinggi kepada Imam Ali [alaihis salam]. Di sini Allah juga mengingatkan Rasul SAW untuk menyampaikan kepada Abubakar agar ia tidak mengingkari atau melanggar janjinya karena hasad atau tidak senang kepada orang yang Allah tetapkan keutamaannya. Disinilah Abu bakar dikatakan jika ia setia terhadap semua keputusan Allah SWT nantinya maka ia akan bersama Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] di surga.

Sungguh manusia memang mudah tergoda, begitulah pada akhirnya Abu bakar mengingkari janjinya, ia tidak setia akan keputusan Allah SWT yang menetapkan Imam Ali [alaihis salam] sebagai pengganti Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam]. Perhatikanlah wahai pembaca, tepat setelah Rasulullah mengatakan tentang Abu bakar, Beliau memuji Imam Ali dimana Imam Ali memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Abu bakar karena keutamaannya dan Imam Ali lah yang diisyaratkan oleh Rasulullah sebagai orang yang ditetapkan oleh Allah SWT keutamaannya, Disini Rasulullah mengingatkan Abu bakar agar tidak hasad kepada orang yang telah Allah tetapkan keutamaannya [yaitu Imam Ali].

Hakekat.com mengatakan

Di sini kita merasa heran, orang yang dibenci oleh syi’ah hari ini ternyata dicintai oleh Allah. Lalu siapa yang benar? Syi’ah atau Allah?

Disini kita merasa heran, jika memang hakekat.com mengaku membaca kitab Tafsir Imam Hasan Al Askari [alaihissalam] lantas bagaimana bisa ia tidak membaca kata-kata Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] selanjutnya yang menunjukkan bahwa pada saat itu orang yang Allah tetapkan keutamaannya adalah Imam Ali [alaihissalam]  sedangkan untuk Abu bakar Allah memberikan peringatan agar tidak mengingkari janji setia kepada Rasulullah dan tidak hasad terhadap orang yang Allah tetapkan keutamaannya.

Ini menimbulkan satu pertanyaan besar, mungkinkah hakekat.com membaca langsung kitab-kitab Syiah? Jika memang begitu maka sudah pasti ia mengetahui apa yang satria tulis, Disini hanya ada dua kemungkinan, ia hanya mengutip kitab guru nashibinya yang suka merendahkan syiah dan membuat kebohongan atas nama syiah atau ia membaca tetapi pura-pura tidak tahu dan sengaja menyelewengkan fakta agar para pembacanya yang awam terkelabui. Memang teman-teman nashibinya sudah pasti kegirangan melihat tulisan yang merendahkan pengikut ahlul bait, mereka tidak peduli tulisan itu benar atau tidak. Huh memang makhluk nashibi seperti mereka ini benar-benar tidak pantas mengaku sebagai pengikut Rasulullah[Shalallahu alaihi  wa aalihi wassalam]

Mengapa hakekat.com tidak tahu bahwa orang yang ditetapkan keutamaannya saat itu adalah Imam Ali [alaihissalam]. Mengapa ia tidak mengutip pujian untuk Imam Ali [alaihissalam] yang tepat berada pada lanjutan kutipannya? Oh ya bukankah kita sudah tahu kalau hakekat.com ini membenci Imam Ali [alaihissalam] jadi wajar saja kalau ia tidak mau mengutip pujian untuk Imam Ali [alaihissalam]. Alangkah celakanya orang yang membenci apa yang telah Allah tetapkan.

Marilah kita lapangkan dada kita untuk mencintai orang yang dicintai Allah SWT dan telah Allah tetapkan keutamaannya. Kita pasti tak rela jika orang yang kita cintai direndahkan. Misalnya jika ada orang yang merendahkan ibu kita, sudah pasti kita marah dan murka. Kita marah ketika ibu yang melahirkan kita dan banyak berjasa pada kita, begitu saja dimaki-maki. Bagaimana dengan Allah? Apakah kita berani merendahkan orang yang telah ditetapkan oleh Allah SWT keutamaanya?. Apakah kita berani bersikap hasad kepada orang yang Allah SWT tetapkan keutamaannya?.

Hakekat.com memang mengikuti pendahulunya Abu bakar yang hasad terhadap kemuliaan Imam Ali [alaihissalam]. Hakekat.com lebih memilih setia kepada Abu bakar dibanding kepada Allah SWT. Naudzubillah.

Iklan

Menggugat Tulisan “Ali dan Nikah Mut’ah”

Apa kata Ali tentang Nikah Mut’ah? Barangkali ada yang sudah membacanya dari kitab-kitab Sunni dan Syiah. Sebenarnya apa hukumnya nikah mut’ah menurut Imam Ali alaihissalam.Tidak diragukan lagi kalau Imam Ali telah menghalalkan mut’ah dan mengatakan kalau Umarlah yang melarangnya.

Tapi musuh-musuh Imam Ahlul bait senantiasa membenci ajaran para Imam Ahlul bait, tidak henti-hentinya mereka membuat kebohongan dengan mengatasnamakan nama para Imam. Cih beginilah tabiat sejati pemilik situs nashibi hakekat.com, dengan angkuhnya ia membuat kebohongan-kebohongan atas nama Syiah dan Imam Ahlul bait. Simak baik-baik bantahan saya terhadap kedustaannya

Situs pendusta hakekat.com mengutip sebuah riwayat Imam Ali alaihissalam dari kitab Tahdzib Al Ahkam dan Wasa’il Syiah, hakekat.com mengatakan

Muhammad bin Yahya, dari Abu Ja’far dari Abul Jauza’ dari Husein bin Alwan dari Amr bin Khalid dari Zaid bin Ali dari ayahnya dari kakeknya dari Ali [Alaihissalam] bersabda: Rasulullah mengharamkan pada perang Khaibar daging keledai jinak dan nikah mut’ah

Cih hakekat.com si nashibi ini berlagak pintar dengan mengutip riwayat di atas. Seperti biasa kali ini ia hanya mengutip dari kitab-kitab panutannya syaikh wahabi salafi an nashibi. Coba lihat baik-baik wahai pembaca, hakekat.com yang katanya membaca langsung kitab-kitab syiah ternyata tidak memiliki kemampuan untuk sekedar menyebutkan pada jilid berapa dan halaman berapa hadis Imam Ali yang dikutipnya di atas.

Berikut saya kutip riwayat tersebut dari kitab Wasa’il Syiah jilid 21 hal 12 riwayat no 26387

Dari Muhammad bin Ahmad bin Yahya dari Abi Ja’far dari Abil Jauza’dari Husain bin Alwan dari Amr bin Khalid dari Zaid bin Ali dari Ayahnya dari kakeknya dari Ali [alaihissalam] yang berkata “Rasulullah [shalallahualaihi wa aalihi wassalam] pada hari Khaibar telah mengharamkan daging keledai jinak dan nikah mut’ah”.

Setelah mengutip hadis di atas, hakekat.com dengan sombongnya mengatakan kalau hadis di atas shahih dan menurutnya mahzab syiah telah menyalahi Imam Ali karena menghalalkan mut’ah. Huh hakekat.com memang pintar membual, mari kita lihat apa kata ulama syiah mengenai hadis Imam Ali di atas

Syaikh Muhammad Baqir Al Majlisi dalam Malaz Al Akhyar jilid 12 hal 32 berkata tentang hadis Imam Ali di atas
“Hadis tersebut dipalsukan oleh pengikut Zaidiyah”

Ayatullah Sayyid Abul Qasim Al Khu’i  berkata dalam Al Bayan fi Tafsir Al Qur’an hal 322
“Apa yang diriwayatkan dari Ali tentang pengharaman mut’ah adalah palsu”

Keterangan Ulama syiah di atas sudah cukup sebagai bukti kedustaan hakekat.com yang mengatakan kalau hadis tersebut shahih. Selain dusta ternyata hakekat.com juga tidak becus dalam mengutip perkataan Ulama syiah. Ia mengatakan bahwa

Al Hurr Al Amili dalam Wasa’il menyatakan:
“Syaikh [At Thusi] dan [ulama] lainnya menafsirkan riwayat ini sebagai taqiyyah, karena bolehnya nikah mut’ah adalah perkara aksiomatis dalam mazhab syiah”

Kemudian hakekat.com mengomentari kutipan ini dengan kata-kata keji yang tidak pantas kepada Imam Ali yaitu

Kita perlu mempertanyakan mengapa sabda Ali tidak sesuai dengan ajaran syiah, itu dianggap sebagai taqiyah. Tetapi kita ketahui bahwa taqiyah tidak mungkin dilakukan tanpa sebab, yaitu ketakutan. Lalu apa yang Imam Ali takutkan hingga bertaqiyah dalam masalah ini? Apakah kita mempertanyakan kembali sifat pemberani Ali bin Abi Thalib karena di sini digambarkan takut untuk menyampaikan kebenaran?
Juga kita mempertanyakan sumber informasi Syaikh At Thusi dan ulama syiah lainnya hingga mereka tahu bahwa imam Ali bertaqiyah ketika meriwayatan sabda Nabi itu. Jika tidak ada informasi yang valid apakah kita mengatakan bahwa  ulama syiah hanya mengira-ngira saja, tanpa berdasari informasi yang valid. Hanya dengan satu alasan, yaitu menyelisihi hal yang aksiomatis dalam mazhab lalu begitu saja sabda imam bisa divonis taqiyah.
Satu lagi konsekuensi berat bagi ulama syiah yang menyatakan bahwa Ali bertaqiyah dalam hadits itu, berarti Ali mengarang-ngarang hadits Nabi SAWW padahal Nabi SAWW tidak pernah mengucapkannya. Karena pernyataan Ali di atas adalah riwayat,bukan pendapat Ali sendiri, tapi menceritakan sabda Nabi SAWW. Perbuatan ini dikenal dalam istilah hadits dengan “berdusta atas nama Nabi”.

Sungguh celaka sekali hakekat.com, ia berani menisbatkan kedustaan pada Imam Ali. Sudah jelas perkataan hakekat.com hanyalah bualan dusta yang sengaja ia umbar-umbar untuk mengelabui orang awam yang tidak memiliki akses yang cukup untuk merujuk pada kitab-kitab syiah. Hakekat.com telah berdusta dalam menukil pernyataan syaikh Al Hurr Al Amili dalam Wasa’il Syiah –lihat wahai pembaca, si pendusta ini tidak menyebutkan jilid dan halaman dimana ia mengutip-. Dalam kitab Wasa’il Syiah jilid 21 hal 12, Syaikh Hurr Al Amili mengomentari hadis ini dengan kata-kata

“Syaikh [At Thusi] dan [ulama] lainnya mengatakan riwayat ini sebagai taqiyyah, yakni dalam periwayatan, karena bolehnya nikah mut’ah adalah perkara dharuriyah dalam mazhab syiah”

Hakekat.com telah menghapus kata-kata “yakni dalam periwayatan”. Kata-kata ini jelas merubah segala omong-kosong yang ia buat. Taqiyah yang dimaksud baik oleh Syaikh Thusi, Syaikh Al Hurr Amili dan ulama lainnya adalah taqiyah dari mereka yang meriwayatkan hadis tersebut, bukan dari Imam Ali alaihissalam. Oleh karena itu Syaikh Al Hurr menjelaskan taqiyah tersebut dengan kata-kata “yakni dalam periwayatan”. Kelakuan hakekat.com ini hanya memiliki dua kemungkinan

  1. Hakekat.com tidak mengutip langsung dari kitab Wasa’il Syiah sehingga ia tidak mengutip dengan benar, cih sudah jelas ia mengutip dari pendahulunya salafy wahaby yang juga nashibi, atau
  2. Hakekat.com memang membaca langsung kitab Wasa’il Syiah tetapi dengan sengaja menghapus bebarapa kalimat untuk mengelabui pikiran orang awam sehingga dengan mudah ia menampilkan image yang buruk kepada para pembacanya. Cih sepertinya dihalalkan bagi Nashibi untuk berdusta kalau ditujukan kepada syiah.

Saya jadi teringat dengan ayat Al Quran yang mengatakan
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati, (QS. 2:159)

Dalam mahzab syiah, mut’ah jelas dibolehkan dan merupakan perkara dharuriyah. Hal ini karena hadis-hadis dari para Imam Ahlul bait dalam jumlah banyak dan dengan sanad yang shahih telah menjelaskan bahwa mut’ah adalah halal.. Riwayat-riwayat ini banyak sekali bahkan ditulis oleh Syaikh Al Hurr Al Amili dalam Wasa’il Syiah, tetapi hakekat.com pura-pura buta atau memang tidak punya mata sehingga ia hanya mengutip satu hadis yang menurutnya shahih.Salah satu hadis yang menunjukkan kehalalan mut’ah adalah berasal dari Imam Ali alaihissalam sendiri.

Imam Ali alaihissalam juga telah menghalalkan mut’ah, beliau bahkan mencela umar yang sudah membuat larangan atau pengharaman terhadap mut’ah. Hal ini dapat dilihat dalam kitab Wasa’il Syiah jilid 21 hal 5 riwayat no 26357 dan hal 10 riwayat no 26375 dengan sanad yang shahih dari Abu Ja’far yang berkata
Ali alaihissalam berkata “Kalau lah mut’ah tidak dilarang oleh Ibnu Khattab –yakni Umar- maka tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka”

Oleh karena itulah walaupun Ulama syiah menuliskan hadis mengenai pengharaman mut’ah oleh Imam Ali, mereka mengatakan hadis tersebut palsu atau tidak benar dan berasal dari taqiyyah para perawi hadis tersebut. Ditambah lagi hadis pengharaman mut’ah telah bertentangan dengan banyak hadis shahih dari para Imam Ahlul bait termasuk Imam Ali alaihissalam sehingga Syaikh Al Majlisi dengan tegas menyatakan hadis tersebut palsu.

Hakekat.com kembali unjuk kebodohan, dengan bergaya sok ia mengatakan kalau para perawi hadis pengharaman mut’ah itu adalah tsiqat sehingga hadis tersebut shahih di sisi syiah. Pernyataannya adalah dusta dan sedikitpun hakekat.com tidak mengerti kaidah ilmu hadis di sisi Syiah.

Dalam Rasa’il fi Dirayat Al Hadits jilid 1 hal 395 disebutkan mengenai syarat hadis dinyatakan shahih di sisi Syiah yaitu

Apa saja yang diriwayatkan secara bersambung oleh para perawi yang adil dan dhabit dari kalangan Imamiyah dari awal sanad sampai para Imam maksum dan riwayat tersebut tidak memiliki syadz dan illat atau cacat

Hadis yang dikutip hakekat.com tidak memenuhi persyaratan di atas karena diantara para perawi hadis tersebut ada yang bukan dari kalangan Imamiyah ditambah lagi hadis tersebut bertentangan dengan berbagai hadis shahih dari para Imam sehingga menunjukkan adanya syadz dan illat.

Para perawi yang bermasalah dalam hadis yang dikutip oleh hakekat.com adalah Husain bin Alwan dan Amr bin Khalid Al Wasithi, keduanya adalah para perawi sunni dan bukan dari kalangan syiah imamiyah.

Dalam Ikhtiyar Ma’rifat Ar Rijal. jilid 2 hal 687 Syaikh Al Kasy sebagaimana disebutkan oleh Syaikh At Thusi telah mengatakan kalau Husain bin Alwan dan Amr bin Khalid adalah Rijal Al A’amah yang berarti para perawi sunni atau bukan dari golongan Syiah Imamiyah
Syaikh Al Hurr Al Amili sendiri dalam Wasa’il Syiah jilid 30 hal 354 dimana beliau mengutip Al Kasy yang mengatakan kalau Husain bin Alwan adalah rijal a’amah. Kemudian dalam Wasa’il Syiah jilid 30 hal 438 beliau mengatakan kalau Amr bin Khalid Al Wasithi adalah Rijal a’amah.

Mungkin akan ada pembaca yang terheran-heran mengapa dalam kitab Syiah terdapat para perawi Sunni atau bukan penganut mahzab Syiah Imamiyah. Bagi mereka yang menggeluti hadis-hadis Syiah maka perkara ini tidaklah mengherankan. Pada dasarnya para Ulama yang mengumpulkan hadis dari para Imam selalu berusaha untuk menuliskan hadis-hadis dari orang-orang yang mengaku telah mendengar hadis tersebut dari para Imam walaupun ternyata setelah diteliti orang tersebut bukanlah penganut mahzab Syiah Imamiyah. Ulama Rijal di kalangan syiah menyebut mereka ini dengan sebutan Rijal Al A’amah. Sedangkan untuk para perawi Imamiyah dikenal dengan sebutan Rijal Khasah

Bagaimana status hadis mereka rijal A’amah ini? Ulama syiah mengatakan hadis mereka tidak bisa dinyatakan shahih tetapi bisa diterima jika mereka adalah orang yang tsiqah dan hadis yang mereka bawakan tidak bertentangan dengan hadis shahih dari para perawi Imamiyah, dalam hal ini hadis mereka dinyatakan muwatstsaq. Tetapi jika hadis mereka bertentangan dengan hadis-hadis shahih dari kalangan imamiyah maka hadis mereka tidak diterima walaupun mereka dinyatakan tsiqah. Hal ini karena seringkali terjadi kesalahan pada hadis yang mereka ambil dari para Imam akibat campuraduk yang dilakukan oleh rijal a’amah dengan hadis-hadis sunni di kalangan mereka. Syaikh Al Kasy telah menegaskan hal ini dalam Ikhtiyar Ma’rifat Ar Rijal jilid 2 hal 855

قال أبو محمد الفضل بن شاذان سأل أبي رضي الله عنه، محمد بن أبي عمير، فقال له: انك قد لقيت مشايخ العامة فكيف لم تسمع منهم ؟ فقال: قد سمعت منهم، غير أني رأيت كثيرا من أصحابنا قد سمعوا علم العامة وعلم الخاصة، فاختلط عليهم حتى كانوا يروون حديث العامة عن الخاصة وحديث الخاصة عن العامة، فكرهت أن يختلط علي، فتركت ذلك وأقبلت على هذا

Abu Muhammad Fadhl bin Syadzan berkata ayahku bertanya pada Muhammad bin Abi Umair “kamu bertemu dengan banyak syaikh al a’amah mengapa kamu tidak mendengar hadis dari mereka?. Saya mendengar hadis dari mereka tetapi saya melihat banyak dari sahabat kita telah mendengar hadis dari al’amah dan al khasah kemudian mereka melakukan kekacauan dengan menisbatkan hadis al’amah dari al khasah dan hadis al khasah dari al ‘amah. Oleh karena saya sangat tidak suka dengan kekacauan seperti itu, jadi saya meninggalkan meriwayatkan dari al a’amah dan tetap pada riwayat khasah

Jadi walaupun Husain bin Alwan dan Amr bin Khalid dinyatakan tsiqah, mereka tetap tidak bisa dijadikan hujjah dalam hadis ini karena mereka bukan dari kalangan Imamiyah dan hadis ini yang mereka riwayatkan bertentangan dengan berbagai hadis shahih lain dari para perawi Imamiyah sehingga hadis mereka mengandung syadz dan illat. Jika kita mengkaitkan hadis ini dengan hadis-hadis di kalangan sunni maka bisa dipastikan bahwa hadis pengharaman mut’ah di khaibar memang berasal dari hadis-hadis golongan Sunni dan dicampuradukkan atau dikacaukan dengan hadis Syiah oleh salah satu atau kedua orang perawi ini Husain bin Alwan atau Amr bin Khalid. Kekacauan ini bisa terjadi tidak sengaja atau mungkin sengaja dalam rangka taqiyyah untuk mendapat simpati dari golongan Sunni.

Saya pribadi lebih condong bahwa yang melakukan taqiyyah disini adalah Amr bin Khalid Al Wasithi, Di sisi Syiah orang ini hanya meriwayatkan hadis dari Zaid bin Ali seperti yang disebutkan oleh Syaikh Hurr Al Amili sedangkan di sisi Sunni orang ini ternyata memiliki reputasi yang buruk di kalangan Sunni – lihat keterangannya dalam kitab Tahzib ibnu hajar-.

Ia meriwayatkan banyak hadis palsu atas nama Zaid bin Ali. Ahmad bin Hanbal panutan ulama sunni mengatakan bahwa ia seorang pendusta yang meriwayatkan hadis-hadis palsu dari zaid bin ali dari ayahnya. Oleh karena itu untuk menarik simpati dari kalangan ulama sunni pada masanya maka ia meriwayatkan hadis-hadis dari Zaid bin Ali yang diterima disisi Sunni, seperti hadis yang kita bahas di atas. Sayangnya usaha ini tidak berhasil, pada akhirnya banyak ulama sunni tetap menyatakannya pendusta, matruk, pembuat hadis palsu atas nama Zaid bin Ali, dan munkar hadis tetapi data yang penting disini adalah tidak ada satupun Ulama sunni yang mengatakan kalau dia ini seorang Syiah atau Rafidhah bahkan ulama sunni menegaskan kalau ia tidak mendengar dari Imam Ja’far. Dengan kata lain tidak ada alasan sedikitpun untuk menisbatkannya sebagai pengikut Syiah Imamiyah.Satu-satunya yang mungkin masih masuk akal adalah Amr bin Khalid adalah pengikut Zaidiyah dan saya yakin ialah yang diisyaratkan oleh Syaikh Muhammad Baqir Al Majlisi ketika menyatakan bahwa hadis pengharaman mut’ah di atas dipalsukan oleh pengikut Zaidiyah.

Saya ingatkan kepada para pembaca agar waspada terhadap kedustaan yang dibuat oleh hakekat.com. Orang dungu ini benar-benar tidak mengerti sedikitpun tentang mahzab syiah termasuk ilmu hadis dan ilmu rijal di kalangan Syiah. Orang dungu ini juga tidak becus dalam menukil tapi gayanya luar biasa angkuh, seolah ia memahami tetapi kenyataannya benar-benar nol besar. Orang dungu ini juga tidak segan-segan membuat kedustaan asalkan kedustaan itu membuat orang menjadi benci dan mengkafirkan Syiah. Hakekat.com hanyalah situs fitnah yang hanya memuat fitnah-fitnah terhadap syiah, maka celakalah mereka para pendusta dan pemfitnah.

Kedustaan hakekat.com Dalam Mengutip Hadis Syiah

Kali ini satria akan menyorot ketidakjujuran hakekat.com dalam menukil hadis Syiah. Hakekat.com dengan sejuta kesombongan mengutip hadis-hadis syiah yang berkenaan dengan masalah warisan kemudian menyatakan kalau dalam syiah seorang wanita tidak berhak mendapatkan warisan tempat tinggal. Cih betapa anehnya, orang yang merasa sok pintar seraya menggurui orang-orang syiah. Tingkahnya ingin menunjukkan kalau orang-orang syiah tidak mengetahui hadis dalam kitab-kitab mereka padahal hakekat sebenarnya adalah kedunguan hakekat.com sudah melampaui batas. Huuh mungkin saja orang penuh dosa ini tahu kebatilan yang diusungnya tetapi ia tetap ingin memfitnah dan merendahkan syiah. Bagi hakekat.com kedustaan itu tidak mengapa jika ditujukan untuk menjauhkan orang dari mahzab Syiah. Sungguh betapa celakanya akhlak hakekat.com pemuja salafy nashibi.

Hakekat.com mengutip hadis dari Kitab Bihar Al Anwar jilid 26 hal 514

Berkatalah Muhammad bin Hasan dari Jafar bin Basyir dari Hasan dari Abi Murkholid dari Abdul Malik berkata: Suatu hari Abu Jafar memperlihatkan tulisan Ali dalam tulisan “Bahwa para kaum wanita itu tidak berhak medapatkan warisan rumah tinggal bila ditinggal mati oleh lelakinya.” Abu Jafar berkata: “Demi Allah ini adalah tulisan tangan Ali…

Setelah mengutip riwayat ini, hakekat.com berlagak pintar dengan mengajukan pertanyaan bodoh

Pertanyaan untuk kaum Syi’ah:
– Bagaimana Fatimah menuntut sesuatu yang diharamkan terhadap kaum wanita berdasarkan mazhab Syi’ah Rafidhah ?
– Kenapa Abu Bakar dituntut untuk melakukan hal yang diharamkan ?
– Kenapa Fatimah tidak mengikuti perintah Rasul setelah tuntutannya terhadap warisan ?
– Apakah Fatimah keliru wahai Rafidhah ???

Cih alangkah dustanya hakekat.com, ia berlagak seolah-olah mengutip hadis syiah dari Bihar Al Anwar padahal ia sendiri tidak pernah membaca kitab tersebut secara langsung. Hakekat.com ini hanya mengutip tulisan-tulisan para pendusta pujaannya yaitu salafy nashibi semisal Muhibbudin Al Khatib dan Mamduh Farhan Buhairi. Mari saudara-saudara pembaca kita melihat kenyataan sebenarnya yang sengaja disembunyikan oleh hakekat.com

Setelah satria mencari hadis tersebut dalam kitab Bihar Al Anwar maka satria temukan hadis tersebut dalam jilid 101 hal 352 dengan redaksi

محمد بن الحسين عن جعفر بن بشير عن الحسين عن أبي مخلد عن عبد الملك قال دعا أبو جعفر بكتاب علي فجاء به جعفر مثل فخذ الرجل مطوي فإذا فيه إن النساء ليس لهن من عقار الرجل إذا هو توفي عنها شيء فقال أبو جعفر هذا و الله خط علي بيده و إملاء رسول الله

Muhammad bin Husain berkata dari Ja’far bin Basyir dari Husain dari Abi Makhlad dari Abdul Malik berkata “suatu ketika Abu Ja’far menunjukkan Kitab Ali yang tertulis “bahwa kaum wanita tidak berhak mendapatkan warisan rumah tempat tinggal jika ditinggal mati oleh laki-lakinya”. Abu Ja’far berkata “demi Allah ini tulisan tangan Ali yang berasal dari Rasulullah.

Perhatikan perbedaan redaksi hadis ini dengan yang dikutip oleh salafy nashibi hakekat.com, ia menuliskan dengan redaksi Muhammad bin Hasan dari Ja’far bin Basyir dari Hasan padahal dalam kitab aslinya tertulis Muhammad bin Husain dari Ja’far bin Basyr dari Husain.

Kesalahan ini adalah bukti kalau hakekat.com tidak mengutip hadis syiah dari kitab syiah secara langsung. Hakekat.com pendusta ini hanya menukil hadis syiah dari kutipan musuh-musuh syiah pujaannya. Bukti paling nyata kalau hakekat.com tidak mengutip hadis ini dari kitab syiah secara langsung adalah keberaniannya berhujjah dengan hadis yang justru mencampakkan semua hujjah yang diusungnya. Hadis syiah yang ia kutip dari kitab Bihar Al Anwar terletak pada bab “warisan antara suami istri” dengan sub-bab “warisan suami istri dalam nikah mut’ah”.

Dengan melihat judul bab dan subbab yang memuat hadis tersebut maka siapapun yang membaca hadis tersebut dari Kitab Bihar Al Anwar akan memahami kalau wanita yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah wanita sebagi istri yang ditinggal mati oleh suaminya. Jadi alangkah lucunya kalau hakekat.com yang tidak tahu apa-apa ini berlagak sok pintar dengan menyindir Bagaimana Fatimah menuntut sesuatu yang diharamkan terhadap kaum wanita berdasarkan mazhab Syi’ah Rafidhah ?. Cih tidak perlu sok begitu, kenyataan sebenarnya adalah kau hakekat.com memang tidak memahami mahzab syiah tetapi berlagak seolah-olah sangat ahli padahal kerjanya hanya mengutip tulisan salafy nashibi. Sayyidah Fatimah alaihissalam tidak ditinggal mati oleh suaminya alaihissalam tetapi oleh Ayahnya Rasulullah SAW. Sudah jelas kalau dalam mahzab Syiah seorang anak mewarisi dari ayahnya

Apakah Fatimah keliru wahai Rafidhah ??? Ciih sungguh kau-lah hakekat.com yang benar-benar keliru bukan sayyidah Fatimah alaihissalam. Jangan mengukur ketidaktahuanmu sebagai standar akan benar tidaknya sesuatu. Bukan berarti kalau kecerdasanmu dibawah rata-rata maka orang lain akan seperti itu juga. Pembaca-pembaca awam itu pasti lebih punya akal dibanding kau hakekat.com hanya saja mereka tidak memiliki akses yang cukup untuk membuktikan semua kedustaan atau fitnah yang kau buat. Sungguh menyedihkan kesombongan dengan latar belakang kedunguan yang menjadi basis utama situs hakekat.com yang sangat dibanggakan oleh para pemuja salafy nashibi.