Al Qur’an Di Mata Salafy [1]

Setiap salafy harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur’an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya.

Jika kita menelaah literatur-literatur salafy, maka akan anda temui banyak riwayat juga pernyataan baik sahabat maupun tabiin yang merupakan rujukan para salafy yang menegaskan bahwa Al Qur’an yang dijadikan pedoman umat islam saat ini sudah bukan asli lagi, alias sudah dirubah. Jadi kitab suci yang ada pada umat islam sejak dulu sampai hari ini menurut salafy sudah bukan otentik lagi, alias ada ayat-ayat yang bukan lagi wahyu Allah, tetapi ada juga hasil tulisan tangan manusia. Selain diubah, nukilan-nukilan itu juga menyatakan bahwa ada ayat-ayat dalam Al Qur’an yang dihapus. Intinya, Al Qur’an yang ada sekarang ini tidak seperti yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad SAAW.
Sampai di sini para pembaca mungkin merasa heran dan bertanya-tanya, apakah benar salafy menganggap demikian? Mungkin anda belum pernah atau malah sudah pernah mendengar hal ini sebelumnya dan mengklarifikasi kepada teman atau tetangga anda yang salafy, dan dijawab oleh mereka bahwa hal itu semata-mata adalah fitnah dan tuduhan yang dihembuskan oleh musuh-musuh salafy, dari mereka yang ingin memecah belah umat Islam. Lebih jauh lagi, mereka akan menuduh orang yang menebarkan hal itu sebagai antek zionis yahudi. Astaghfirullah

Mengklarifikasikan sebuah tuduhan adalah sikap yang benar, dan seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang objektif, tetapi hendaknya kita tidak salah alamat dalam mengklarifikasi sebuah berita. Seperti kasus kita kali ini, mestinya kita mengklarifikasi tuduhan ini dengan melihat langsung ke literatur salafy untuk mengecek kebenaran berita ini, mengecek apakah benar ada kitab-kitab salafy yang menyatakan demikian atau tidak ada.
Mengapa klarifikasi ke tetangga, teman atau dosen anda yang salafy adalah salah alamat? Ada beberapa sebab bisa jadi teman, tetangga dan dosen anda belum pernah mendapat akses ke literatur itu, bisa jadi dia memang sudah mengakses tetapi dia mengingkari hal itu. Bisa jadi dia adalah “anggota biasa” yang tidak tahu apa-apa, banyak kemungkinan. Tetapi semua itu tidak akan mengubah apa yang tercantum dalam kitab-kitab salafy. Di antaranya

عن عمر بن الخطاب قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم القرآن ألف ألف حرف وسبعة وعشرون ألف حرف فمن قرأه صابرا محتسبا كان له بكل حرف زوجة من الحور العين
Dari Umar bin Khaththab yang berkata bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda “Al Qur’an terdiri dari sejuta dua puluh tujuh ribu huruf , barang siapa membacanya dengan mengharapkan pahala maka baginya akan diberikan balasan setiap hurufnya seorang istri dari bidadari”. Mu’jam Al Awsath Thabrani jilid 6 hal 361 no 6616

Ulama salafy kenamaan Thabrani tidak mengkritik atau mencela hadis tersebut beliau hanya mengomentari dengan kata-kata
لايروى هذا الحديث عن عمر رضي الله عنه إلا بهذا الإسناد تفرد به حفص بن ميسرة
tidak diriwayatkan hadis dari umar radiyallahuanhu tersebut kecuali dengan sanad yang tafarrud (sendiri) oleh Hafsh bin Maisarah

Thabrani seolah mau mengatakan satu-satunya keraguan pada hadis tersebut adalah Hafsh bin Maisarah tafarrud dalam meriwayatkannya. Padahal menurut keterangan Dzahabi dalam Al Kasyf no 1167, Hafsh bin Maisarah dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim mengatakan kalau hadisnya baik. Jadi hadis di atas sanadnya shahih karena tafarrud orang yang tsiqah tetap diterima.

Padahal huruf-huruf yang ada dalam Al Qur’an sekarang jumlahnya tidak melebihi dari sepertiga jumlah yang disebutkan hadis di atas. Kemana sisanya huruf-huruf itu?. Berdasarkan hadis di atas Al Qur’an sekarang sudah mengalami perubahan. Naudzubillah

Jika kita telaah lagi pernyataan-pernyataan dalam literatur salafy maka kita akan sampai pada sebuah kesimpulan berbahaya, yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesimpulan ini berbunyi

Setiap salafy harus mengingkari keaslian Al Qur’an, jika masih beriman bahwa Al Qur’an sekarang ini adalah asli otentik seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAAW, maka dia bukan salafy.

Ada kalimat lain untuk kesimpulan di atas, yaitu setiap salafy harus meyakini bahwa al qur’an telah dirubah, ditambah dan dikurangi. Seseorang tidak bisa menjadi salafy jika tidak meyakini hal itu. Sehingga dapat kita katakan bahwa seorang salafy terpaksa meyakini hal itu jika masih ingin menjadi salafy. Di sini meyakini adanya penambahan, pengurangan dan perubahan terhadap ayat Al Qur’an menjadi sebuah konsekwensi yang melekat, dan tidak pernah akan lepas, bagi seorang penganut salafy.

Sangat mengerikan bahwa dalam literatur shahih salafy banyak terdapat keterangan kalau para sahabat dan tabiin telah meyakini Al Qur’an yang berbeda dengan Al Qur’an yang ada sekarang. Bisa dikatakan juga, mereka yang meyakini bahwa Al Qur’an masih asli tidak pernah akan menjadi salafy karena mahzab salafy mengharuskan pemeluknya untuk mengikuti agama sesuai pemahaman sahabat dan tabiin sebagai penghulu para salafy.

Satria mohon maaf pada pembaca karena barangkali telah membuat pembaca agak sedikit bingung –plus terkejut-. Tetapi ini adalah kenyataan yang harus kita ketahui. Barangkali anda akan bertanya mengenai hal-hal yang mendasari kesimpulan satria di atas, ini adalah pertanyaan wajar, dan satria akan mengetengahkan bukti-bukti dari pernyataan di atas.

Satria katakan di atas bahwa yang akan mencapai kesimpulan seperti itu bukanlah satria pribadi, tetapi kita semua, seluruh pembaca makalah ini. Satria mengajak diri satria sendiri dan pembaca yang budiman untuk merasa tidak puas dengan omongan orang tentang sesuatu, sebelum merujuk pada sumber otentik dari sesuatu itu.

Anda jangan puas hanya dengan mendengar omongan dan –mungkin- bualan dari teman anda yang salafy, tapi hendaknya kita melangkah jauh untuk memberanikan diri menelaah sumber-sumber otentik mazhab salafy. Pembaca akan mendapatkan apa yang tersembunyi dari mazhab salafy, dan satria berusaha untuk menampilkan sumber otentik lengkap dengan nomor jilid dan halaman.

Telah kita bahas di atas bahwa keyakinan terhadap perubahan Al Qur’an adalah konsekwensi dari mazhab salafy. Ulama salafy klasik benar-benar menyadari berbagai literatur shahih tentang hal ini, maka keyakinan tentang perubahan Al Qur’an menjadi sebuah aksioma dalam mazhab salafy –yang tidak bisa diganggu gugat-. Apa yang mendorong para ulama salafy klasik memasukkan keyakinan ini sebagai aksioma? Karena mereka sadar bahwa menolak literatur shahih itu sama saja dengan menolak mazhab salafy.

Kedustaan hakekat.com Dalam Mengutip Hadis Syiah

Kali ini satria akan menyorot ketidakjujuran hakekat.com dalam menukil hadis Syiah. Hakekat.com dengan sejuta kesombongan mengutip hadis-hadis syiah yang berkenaan dengan masalah warisan kemudian menyatakan kalau dalam syiah seorang wanita tidak berhak mendapatkan warisan tempat tinggal. Cih betapa anehnya, orang yang merasa sok pintar seraya menggurui orang-orang syiah. Tingkahnya ingin menunjukkan kalau orang-orang syiah tidak mengetahui hadis dalam kitab-kitab mereka padahal hakekat sebenarnya adalah kedunguan hakekat.com sudah melampaui batas. Huuh mungkin saja orang penuh dosa ini tahu kebatilan yang diusungnya tetapi ia tetap ingin memfitnah dan merendahkan syiah. Bagi hakekat.com kedustaan itu tidak mengapa jika ditujukan untuk menjauhkan orang dari mahzab Syiah. Sungguh betapa celakanya akhlak hakekat.com pemuja salafy nashibi.

Hakekat.com mengutip hadis dari Kitab Bihar Al Anwar jilid 26 hal 514

Berkatalah Muhammad bin Hasan dari Jafar bin Basyir dari Hasan dari Abi Murkholid dari Abdul Malik berkata: Suatu hari Abu Jafar memperlihatkan tulisan Ali dalam tulisan “Bahwa para kaum wanita itu tidak berhak medapatkan warisan rumah tinggal bila ditinggal mati oleh lelakinya.” Abu Jafar berkata: “Demi Allah ini adalah tulisan tangan Ali…

Setelah mengutip riwayat ini, hakekat.com berlagak pintar dengan mengajukan pertanyaan bodoh

Pertanyaan untuk kaum Syi’ah:
– Bagaimana Fatimah menuntut sesuatu yang diharamkan terhadap kaum wanita berdasarkan mazhab Syi’ah Rafidhah ?
– Kenapa Abu Bakar dituntut untuk melakukan hal yang diharamkan ?
– Kenapa Fatimah tidak mengikuti perintah Rasul setelah tuntutannya terhadap warisan ?
– Apakah Fatimah keliru wahai Rafidhah ???

Cih alangkah dustanya hakekat.com, ia berlagak seolah-olah mengutip hadis syiah dari Bihar Al Anwar padahal ia sendiri tidak pernah membaca kitab tersebut secara langsung. Hakekat.com ini hanya mengutip tulisan-tulisan para pendusta pujaannya yaitu salafy nashibi semisal Muhibbudin Al Khatib dan Mamduh Farhan Buhairi. Mari saudara-saudara pembaca kita melihat kenyataan sebenarnya yang sengaja disembunyikan oleh hakekat.com

Setelah satria mencari hadis tersebut dalam kitab Bihar Al Anwar maka satria temukan hadis tersebut dalam jilid 101 hal 352 dengan redaksi

محمد بن الحسين عن جعفر بن بشير عن الحسين عن أبي مخلد عن عبد الملك قال دعا أبو جعفر بكتاب علي فجاء به جعفر مثل فخذ الرجل مطوي فإذا فيه إن النساء ليس لهن من عقار الرجل إذا هو توفي عنها شيء فقال أبو جعفر هذا و الله خط علي بيده و إملاء رسول الله

Muhammad bin Husain berkata dari Ja’far bin Basyir dari Husain dari Abi Makhlad dari Abdul Malik berkata “suatu ketika Abu Ja’far menunjukkan Kitab Ali yang tertulis “bahwa kaum wanita tidak berhak mendapatkan warisan rumah tempat tinggal jika ditinggal mati oleh laki-lakinya”. Abu Ja’far berkata “demi Allah ini tulisan tangan Ali yang berasal dari Rasulullah.

Perhatikan perbedaan redaksi hadis ini dengan yang dikutip oleh salafy nashibi hakekat.com, ia menuliskan dengan redaksi Muhammad bin Hasan dari Ja’far bin Basyir dari Hasan padahal dalam kitab aslinya tertulis Muhammad bin Husain dari Ja’far bin Basyr dari Husain.

Kesalahan ini adalah bukti kalau hakekat.com tidak mengutip hadis syiah dari kitab syiah secara langsung. Hakekat.com pendusta ini hanya menukil hadis syiah dari kutipan musuh-musuh syiah pujaannya. Bukti paling nyata kalau hakekat.com tidak mengutip hadis ini dari kitab syiah secara langsung adalah keberaniannya berhujjah dengan hadis yang justru mencampakkan semua hujjah yang diusungnya. Hadis syiah yang ia kutip dari kitab Bihar Al Anwar terletak pada bab “warisan antara suami istri” dengan sub-bab “warisan suami istri dalam nikah mut’ah”.

Dengan melihat judul bab dan subbab yang memuat hadis tersebut maka siapapun yang membaca hadis tersebut dari Kitab Bihar Al Anwar akan memahami kalau wanita yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah wanita sebagi istri yang ditinggal mati oleh suaminya. Jadi alangkah lucunya kalau hakekat.com yang tidak tahu apa-apa ini berlagak sok pintar dengan menyindir Bagaimana Fatimah menuntut sesuatu yang diharamkan terhadap kaum wanita berdasarkan mazhab Syi’ah Rafidhah ?. Cih tidak perlu sok begitu, kenyataan sebenarnya adalah kau hakekat.com memang tidak memahami mahzab syiah tetapi berlagak seolah-olah sangat ahli padahal kerjanya hanya mengutip tulisan salafy nashibi. Sayyidah Fatimah alaihissalam tidak ditinggal mati oleh suaminya alaihissalam tetapi oleh Ayahnya Rasulullah SAW. Sudah jelas kalau dalam mahzab Syiah seorang anak mewarisi dari ayahnya

Apakah Fatimah keliru wahai Rafidhah ??? Ciih sungguh kau-lah hakekat.com yang benar-benar keliru bukan sayyidah Fatimah alaihissalam. Jangan mengukur ketidaktahuanmu sebagai standar akan benar tidaknya sesuatu. Bukan berarti kalau kecerdasanmu dibawah rata-rata maka orang lain akan seperti itu juga. Pembaca-pembaca awam itu pasti lebih punya akal dibanding kau hakekat.com hanya saja mereka tidak memiliki akses yang cukup untuk membuktikan semua kedustaan atau fitnah yang kau buat. Sungguh menyedihkan kesombongan dengan latar belakang kedunguan yang menjadi basis utama situs hakekat.com yang sangat dibanggakan oleh para pemuja salafy nashibi.

Fatimah Berhak Mendapat Tanah Fadak

Pertanyaan penting yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri sebagai hamba Allah yang dikaruniai pikiran untuk menelaah segala sesuatu adalah Apakah kita yang mengaku Cinta kepada Ahlulbait berani membela Ahlulbait?. Cih kita melihat orang-orang sok dari kalangan Salafi nashibi dengan tidak tahu malu mengatakan kalau mereka mencintai ahlulbait tetapi ternyata sikap mereka menunjukkan kebencian dan kedengkian kepada ahlul bait. Kita lihat mereka selalu antusias mendhaifkan hadis-hadis keutamaan Ahlulbait, menshahihkan hadis-hadis keutamaan musuh-musuh ahlul bait, jika ada perselisihan antara ahlul bait dengan sahabat mereka dengan mudah menyalahkan ahlulbait, selain itu mereka tidak segan-segan menggunakan perumpaan kasar dan kata-kata yang tidak pantas kepada ahlulbait –seperti yang dilakukan hakekat.com-. Inikah kata cinta mereka, cinta yang brengsek, bukan.

Salah satu contoh kebencian salafi nashibi terhadap ahlulbait adalah kisah Fadak. Salafi nashibi itu tidak tahu malu mengaku-ngaku membela sayyidatil jannah Fatimah Az Zahra alaihis salam padahal ternyata hakekat mereka sebenarnya adalah Merendahkan ahlulbait. Buktinya, dapat dilihat dari tulisan budak salafi nashibi yaitu hakekat.com. orang ini mengawali tulisannya dengan mengutip riwayat Imam Ali melamar putrid Abu Jahal berikut

Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari hadist Al Miswar bin Makhramah berkata: Sesungguhnya Ali telah melamar putri Abu Jahal, Fatimah mendengarnya lantas ia menemui Rasul Saw berkatalah Fatimah: “Kaummu menyangka bahwa engkau tidak pernah marah membela anak putrimu dan sekarang Ali akan menikahi putri Abu Jahal,” maka berdirilah Rasulullah Saw mendengar kesaksian dan berkata: “Setelah selesai menikahkan beritahu saya, sesunggunhya Fatimah itu bagian dari saya, dan saya sangat membenci orang yang menyakitinya. Demi Allah, putri Rasulullah dan putri musuh Allah tidak pernah akan berkumpul dalam pangkuan seorang laki-laki.” Maka kemudian Ali tidak jadi melamar putri Abu Jahal (khitbah itu) (diriwayatkan Bukhori dalam kitab Fadhailu Shahabat)

Cih begitulah mereka, tidak segan-segan mereka menshahihkan riwayat yang merendahkan ahlulbait seperti ini. Apakah akal mereka sudahbegitu buntu sehingga tidak melihat berbagai keanehan pada hadis ini. Maklum saja hakekat.com memang tidak punya akal yang cukup dalam berhujjah. Baik, mari kita terima saja penshahihan tak berdasar terhadap hadis ini untuk melihat kebodohan hakekat.com dan ulamanya yang berhujjah dengan hadis ini. Hakekat.com berkata

Maka tampak jelas bahwa yang pantas dipahami dari hadis tersebut adalah Ali melamar putri Abu Jahal dan membuat Fatimah marah. Dengan ini bila hadis diterapkan pada setiap orang yang membenci Fatimah maka Ali adalah orang pertama yang termasuk.

Cih pikir dengan benar baru bicara, apakah sayyidah Fatimah terus marah sampai beliau wafat. Bukankah hadis diatas telah menyatakan kalau Imam Ali tidak jadi melamar putri Abu Jahal. Kalau Imam Ali tidak jadi melamar putri Abu Jahal maka sudah pasti Sayyidah Fatimah tidak marah lagi kepada beliau. Lagipula si pendusta hakekat.com ini benar-benar kurangajar, mengapa ia begitu berani mengeluarkan kata-kata bila hadis diterapkan pada setiap orang yang membenci Fatimah maka Ali adalah orang pertama yang termasuk. Sejak kapan Imam Ali membenci Sayyidah Fatimah, Cih beginilah mental nashibi yang tidak henti-hentinya merendahkan ahlulbait.

Hakekat.com budak nashibi memang hanya bertaklid buta dengan ulama pujaannya yang terkenal Nashibi yaitu Ibnu Taimiyyah. Dengan angkuhnya ia mengutip hujjah Ibnu Taimiyyah, seolah-olah hujjah itu benar-benar kuat padahal tidak lebih dari sekedar omong-kosong

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata saat membantah keyakinan Rafidhah dalam permasalahan ini. Hadist ini disebabkan lamaran Ali terhadap putri Abu Jahal, penyebab yang masuk dalam sebuah lafadh itu menjadi pasti, dimana setiap lafadh yang berlaku pada suatu sebab tidak boleh dikeluarkan penyebabnya bahkan penyebab yang harus masuk. Disebutkan dalam sebuah hadist (apa yang meragukannya menjadikanku ragu dan yang menyakitkannya menyakitkanku)

Dan yang telah dapat dipahami dengan pasti adalah bahwa lamaran terhadap putri Abu Jahal adalah meragukan dan menyakitkan. Nabi Saw dalam hal ini merasa ragu dan menyakitkan. Apabila ini merupakan sebuah ancaman yang harus ditimpakan pada Ali bin Abi Thalib dan bila bukan ancaman yang harus ditimpakan pada pelakunya maka Abu Bakar lebih jauh dari ancaman daripada Ali.

Wahai yang mengaku ulama tapi bukan ulama bukankah awalnya anda mengatakan, penyebab kemarahan sayyidah Fatimah adalah lamaran Imam Ali terhadap putri Abu Jahal, lantas apakah anda Ibnu Taimiyyah tidak bisa melihat hadis itu dengan benar, bukankah hadis tersebut pada akhirnya mengatakan Maka kemudian Ali tidak jadi melamar putri Abu Jahal. Jika penyebabnya hilang maka bagaimana bisa anda mengatakan bahwa ancaman tersebut tertuju pada Imam Ali. Hadis tersebut justru menunjukkan setelah Imam Ali mendengar hadis siapa yang menyakiti Fatimah berarti menyakiti Rasul , beliau dengan patuh tidak jadi melamar putri Abu Jahal. Jadi bagaimana mungkin ancaman itu ditujukan pada Ali.

Sikap Imam Ali ini berbeda 180 derajat dengan sikap Abu Bakar. Apa yang menyebabkan kemarahan Sayyidah Fatimah kepada Abu Bakar?. Jawabannya karena Abu Bakar menolak menyerahkan tanah Fadak kepada Sayyidah Fatimah. Apakah penyebab ini hilang atau dengan kata lain apakah setelah membuat Sayyidah Fatimah marah maka Abu Bakar lantas memberikan Tanah Fadak kepada Sayyidah Fatimah. Sayang sekali tidak, Abu Bakar seperti tidak pernah mendengar hadis siapa yang menyakiti Fatimah berarti menyakiti Rasul sehingga dia tidak pernah menyerahkan tanah fadak kepada Sayyidah Fatimah atau mungkin saja dia tahu tapi tidak sedikitpun hatinya takut untuk menyakiti Rasul. Oleh karena penyebabnya masih terus ada maka Sayyidah Fatimah marah dan mendiamkan Abu Bakar selama 6 bulan sampai beliau wafat. Lucu sekali bukan Ibnu Taimiyyah si nashibi dan pengikut butanya hakekat.com yang dungu ini tidak mengerti sedikitpun hadis yang menjadi hujjah mereka. Aneh sekali bukan kalau justru lawan mereka lebih memahami hadis dibanding mereka. Segala puji bagi Allah yang mencabut akal dari salafi nashibi.

Kita lihat terus kedunguan hakekat.com dalam berhujjah. Hakekat.com ini berulang kali menuduh kami kaum syiah sebagai pembuat hadis-hadis palsu tanpa sedikitpun menunjukkan buktinya. Tuduhan ini membuat hakekat.com dengan mudah menampilkan image bahwa hadis-hadis syiah banyak yang palsu dan berbeda dengan dirinya yang selalu berhujjah dengan hadis shahih saja. Tetapi alangkah terkejutnya anda wahai pembaca jika mendapati bahwa sebenarnya hakekat.com justru berhujjah dengan hadis palsu. Cih bermulut manis tapi berhati busuk. Inilah hadis palsu yang ia bawa

Diriwayatkan dari Fatimah Ra. sesungguhnya ia setelah peristiwa itu rela terhadap Abu Bakar. Berdasarkan riwayat Baihaqi dengan sanad dari Sya’bi ia berkata: Tatkala Fatimah sakit, Abu Bakar menengok dan meminta izin kepadanya, Ali berkata: “Wahai Fatimah ini Abu Bakar minta izin.” Fatimah berkata: “Apakah kau setuju aku mengijinkan ?”, Ali berkata: “Ya.” Maka Fatimah mengijinkan, maka Abu Bakar masuk dan Fatimah memaafkan Abu Bakar. Abu Bakar berkata: “Demi Allah saya tidak pernah meninggalkan harta, rumah, keluarga, kerabat kecuali semata-mata karena mencari ridha Allah, Rasulnya dan kalian keluarga Nabi.” (Assunan Al Kubra Lilbaihaqi 6/301)

Hadis tersebut jelas-jelas palsu karena dua alasan. Alasan yang pertama, hadis tersebut bertentangan dengan hadis-hadis shahih yang diakui oleh salafi nashibi sendiri yaitu hadis riwayat Aisyah yang mengatakan kalau Sayyidah Fatimah senantiasa marah dan mendiamkan atau tidak berbicara dengan Abu Bakar sampai beliau wafat. Alasan kedua hadis ini jelas sekali produk buatan orang bernama Sya’bi karena dia sendiri belum lahir saat peristiwa itu terjadi, dan ternyata tidak ada orang lain yang menceritakan riwayat ini. Jadi kesimpulan apa lagi yang dapat dikatakan kecuali kalau sya’bi ini yang membuat-buat hadis tersebut.

Begitulah kepalsuan senantiasa akan terungkap walaupun ditutup-tutupi oleh para pemuja sahabat yang tidak rela jika ada riwayat yang menyudutkan sahabat Nabi. Kita lihat disisi lain mereka selalu menggembar-gemborkan sikap ilmiah, objektif, hadis shahih dan sebagainya padahal ternyata mereka sendiri di saat terdesak malah berusaha membela hadis-hadis palsu. Inilah hakekat Ibnu Katsir yang dikutip oleh hakekat.com

Ibnu Katsir berkata: Ini suatu isnad yang kuat dan baik yang jelas Amir mendengarnya dari Ali atau seseorang yang mendengarnya dari Ali. (Al Bidayah Wannihaayah 5/252)

Jika kita merujuk ke kitab asli Bidayah wannihayah tersebut maka riwayat yang dikutip Ibnu Katsir hanyalah riwayat Baihaqi dan tidak ada yang lain. Coba lihat sendiri, riwayat Baihaqi sedikitpun tidak menyebutkan nama seseorang atau nama Imam Ali. Sya’bi atau Amir dengan seenaknya langsung saja mengatakan hadis palsu tersebut. Jadi mana objektifitas kebanggaan salafi nashibi. Ternyata Ulama salafi itu tidak segan-segan berhujjah dengan hadis palsu asal mendukung keyakinan mereka. Dengan mental seperti ini rasanya sangat tidak tahu malu kalau mereka salafi nashibi ini berulang kali menuduh syiah telah memalsu hadis.

Hakekat.com yang sok itu dengan tidak tahu malu malah mengatakan

Dengan demikian terbantah sudah cacian Rafidhah terhadap Abu Bakar yang dikaitkan dengan marahnya Fatimah terhadapnya dan bila memang Fatimah marah pada awalnya namun kemudian sadar dan meninggal dalam keadaan memaafkan Abu Bakar.

Begitulah keadaannya hakekat.com yang berhujjah dengan hadis palsu, bukankah syarat hadis shahih itu harus bersambung sanadnya terus mana bukti kalau sanad hadis tersebut bersambung. Apakah seseorang bisa menyaksikan suatu peristiwa dimana saat itu ia sendiri belum lahir?. Memang jalan pikiran hakekat.com agak sedikit terganggu

Hakekat.com memang pintar membodohi orang awam, kalau kita lihat dia ini sering berbelit-belit kalau berhujjah dengan tujuan untuk mengaburkan kebenaran. Lihat omong-kosongnya

Hal ini tidak berlawanan dengan apa yang tersebut dalam hadist Aisyah yang lalu. “Sesungguhnya ia marah pada Abu Bakar lalu didiamkan sampai akhir hayatnya” hal ini sebatas pengetahuan Aisyah ra saja. Sedang hadist riwayat Sya’bi menambah pengertian kita. Abu Bakar menjenguk Fatimah dan berbicara dengan Abu Bakar serta memaafkan Abu Bakar: Aisyah dalam hal ini menafikan dan Asya’bi menetapkan.
Para ulama memahami bahwa ucapan yang menetapkan lebih didahulukan dari pada yang menafikan, karena kemungkinan suatu ketetapan sudah bisa didapatkan tanpa memahami penafian terutama dalam masalah ini, yaitu kunjungan Abu Bakar terhadap Fatimah bukan suatu peristiwa yang besar dan didengar di masyarakat.

Bagaimana mungkin ia mengatakan kalau hadis palsu lebih kuat dari hadis shahih. Apakah masuk akal untuk mengatakan kalau Sya’bi lebih tahu dari Aisyah?. Aisyah jelas hidup pada zaman Sayyidah Fatimah dan Abu Bakar sedangkan Sya’bi bahkan belum lahir. Jadi kok bisa ya orang yang belum lahir membantah kesaksian orang yang justru menyaksikan langsung peristiwa tersebut –Aisyah-. Kalau memang kunjungan Abu Bakar terhadap Fatimah bukan peristiwa besar seperti kata hakekat.com maka lebih masuk akal kalau peristiwa tersebut diketahui oleh putri Abu Bakar yaitu Aisyah, tapi kenyataannya Aisyah tidak mengetahui sedikitpun dan justru yang lebih tahu adalah orang bernama Sya’bi yang saat itu belum lahir. Sepertinya hakekat.com memang pintar dalam hal unjuk kebodohan.

Salah satu bentuk dusta hakekat.com, adalah

Apa yang telah para ulama ungkapkan tentang Fatimah adalah bahwa ia sama sekali tidak memboikot Abu Bakar. Rasul pun telah melarang kita memboikot seseorang lebih dari tiga hari. Sedang Fatimah tidak berbicara dengannya karena memang sedang tidak ada yang harus dibicarakan.

Cih mari kita lihat kata Ulama kenamaan Sunni Mullah Ali Qari dalam Syarh Mishkat Al Mashabih jilid 3 hal 453 yang berkata

Hal yang paling sulit untuk disampaikan adalah penolakan Fatimah Az Zahra. Mengatakan kalau Fatimah tidak mengetahui hadis yang disebutkan Abu Bakar atau ia tidak menyetujui hadis tersebut setelah ia mendengarnya adalah terlalu sulit. Setelah Abu Bakar menyebutkan hadis ini dan beberapa sahabat menerimanya maka mengapa ia tidak menerima hadis tersebut?. Jika dikatakan ia marah sebelum mendengar hadis tersebut maka mengapa ia terus marah setelah hadis tersebut disebutkan. Rasa tidak senangnya begitu ekstrem sehingga ia tetap marah kepada Abu Bakar dan tidak pernah berbicara dengannya.

Lihat baik-baik, bagi seorang Ali Qari sikap marah Fatimah itu memang benar-benar ekstrem dalam bentuk pemboikotan dimana Sayyidah Fatimah marah dan menolak berbicara dengan Abu Bakar. Jelas sekali kalau dilihat dari hadisnya

Dengan demikian terbongkarlah sudah kedustaan dan kedunguan hakekat.com dan hancurlah kebatilan yang diusung hakekat.com yang nashibi.

Berikutnya kita akan membahas kedustaan hakekat.com yang mengutip hadis-hadis Syiah tentang warisan. Pendusta ini -hakekat.com- tidak tahu malu mengaku-ngaku lebih mengetahui hadis syiah dibanding orang-orang Syiah. Naudzubillah

Imam Hasan, Imam Maksum Yang Dibenci

Sungguh berbeda jauh dengan Syiah, Salafi Nasibi tidak hanya menolak Imam Hasan sebagai Imam dalam agama bahkan salafi nasibi tidak segan-segan menyatakan kebencian pada Imam Hasan. Mengapa sang Imam maksum begitu dibenci oleh Salafi nashibi ?. Mari kita simak bersama jawabannya.

Syiah berkeyakinan bahwa Imam yang akan memberi petunjuk bagi manusia agar tidak sesat adalah Imam ahlul bait yang berjumlah dua belas oleh karena itu syiah sering disebut Syiah Imamiyah atau Syiah Itsna Asyariyyah atau Syiah dua belas Imam. Berbeda dengan Syiah, salafi nashibi justru menolak mengakui ahlul bait sebagai Imam bahkan mereka lebih suka mengakui Muawiyah, pengikutnya dan cucu-cucunya dan berlomba-lomba mengutamakan mereka. Salah satu Imam syiah adalah Hasan bin Ali putra Ali bin Thalib kakak Imam Husain. Salafi Nashibi sering menutupi kebenciannya terhadap Imam Hasan dengan selalu mengklaim bahwa mereka mencintai Imam Hasan. Huh betapa mudahnya cinta itu diklaim, betapa ringannya mulut itu bermanis kata. Tetapi bangkai tetaplah bangkai, disembunyikan dengan pewangi apapun baunya akan tetap tercium juga. Begitu pula salafi nashibi tidak ada gunanya mereka mengklaim mencintai Imam Hasan kalau mereka sendiri justru memerangi Imam Hasan, menolak mengakui petunjuknya dan memerangi para pengikut sang Imam. Sikap salafi ini tidak lain hanya muncul dari kebencian yang diwariskan oleh bani Umayyah.

Ada hal menjijikkan yang sering diulang-ulang oleh salafi nashibi untuk merendahkan syiah. Mereka menuduh Syiah membenci Imam Hasan dengan alasan keturunan Imam Hasan tidak ada satupun yang menjadi Imam Syiah dan justru yang menjadi Imam Syiah adalah keturunan Imam Husain. Salafi nashibi memang hanya bisa menampilkan tuduhan busuk. Setelah memerangi Imam Hasan, salafi nashibi tidak puas kalau nama sang Imam begitu harum disisi Syiah sehingga mereka berusaha merendah-rendahkan syiah dengan tuduhan busuk seperti itu. Jika ada yang bertanya, apa salah Syiah? Maka jawabannya karena syiah satu-satunya umat Islam yang berpedoman kepada Imam Hasan agar tidak tersesat.

Mengenai tuduhan bahwa Syiah tidak menjadikan Imam dari keturunan Hasan maka tidak ada yang dapat saya katakan kepada mereka selain betapa bodohnya mereka yang menuduh seperti itu. Alangkah bodohnya mereka tentang mahzab Syiah dan Imamah sampai-sampai mereka menanyakan sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan syiah. Cih camkan wahai para nashibi seperti hakekat.com, Syiah tidak pernah mengangkat dan menjadikan siapapun sebagai Imam bagi manusia. Syiah hanyalah mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.

Dalam kitab Uyun Akhbar Ar Ridha jilid 1 hal 57 disebutkan

Imam Ali alaihissalam ditanya tentang apakah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dengan ahlul bait ketika Rasulullah SAW bersabda “kutinggalkan dua pusaka berharga diantaramu yaitu Kitab suci Allah dan Ahlul baitku?”. Imam Ali alaihissalam menjawab “yang dimaksud Beliau mengenai Ahlul Bait adalah Aku, Hasan, Husain dan Sembilan orang Imam keturunan Husain, yang kesembilan adalah Mahdi Al Qaim. Mereka tidak akan berpisah dari kitab suci Allah sampai menemui Rasulullah di telaga haudh.

Syiah begitu teguh mengikuti para Imam ahlul bait bahkan walaupun sang Imam melakukan sesuatu yang tidak disukai mereka maka mereka tetap menjadikan Imam sebagai pedoman. Berbeda sekali dengan salafi nashib yang memerangi Imam Hasan, mereka dipimpin Muawiyah dan pengikutnya telah menolak untuk mengakui Imam Hasan sebagai khalifah yang sah. Mereka mengangkat senjata untuk memerangi Imam Hasan sungguh tidak ada lagi kebencian yang lebih besar dari itu. Oleh karena itu ketika Imam Hasan menyerahkan khilafah kepada Muawiyah dan pengikutnya maka kaum syiah menjadi bingung, mereka awalnya tidak mau menerima hal tersebut tetapi setelah mereka bertanya kepada Imam Hasan sendiri maka merekapun mendapatkan jawabannya dan dengan teguh tetap mengakui kalau Imamah adalah milik Imam Hasan.

Dalam kitab Biharul Anwar jilid 44 hal 24 disebutkan sebagai berikut :

Abu Ja’far berkata, salah seorang pengikut Hasan yang bernama Sufyan bin Laila datang menghadap Hasan dengan menaiki onta, dia melewati imam Hasan yang sedang duduk di teras rumahnya, dia pun berkata : Assalamualaikum wahai penghina orang beriman!”. Hasan berkata padanya : turunlah kemari dan jangan tergesa-gesa. Dia pun turun dan mengikatkan ontanya pada tiang rumah seraya menghampiri Hasan. Hasan berkata padanya : barusan kamu bilang apa? Jawab Sufyan Saya mengatakan Assalamualaika wahai penghina orang beriman”. Hasan menjawab siapa yang memberitahu padamu hal itu? Dia menjawab ” kamu telah sengaja melepaskan kepemimpinan umat dan kau serahkan pada seorang taghut yang berhukum dengan selain hukum Allah. Hasan berkata : akan kuberitahukan padamu mengapa saya berbuat demikian, aku mendengar ayahku berkata, bahwa Nabi telah bersabda : hari hari tidak akan berlalu sampai memegang urusan umat ini orang yang ba;’umnya luas dadanya lebar, suka makan dan tidak pernah kenyang, dialah Muawiyah,karena inilah aku melakukan hal itu. Hasan bertanya pada Sufyan : Apa yang membuatmu kemari? Jawabnya : kecintaanku padamu wahai Hasan, yang membuatku datang kemari menemuimu. Lalu Hasan berkata : demi Allah, tidak ada seorang hamba yang mencintai kami walaupun dia sedang ditawan di negeri Dailam, maka kecintaan itu akan berguna baginya, sesungguhnya kecintaan manusia pada kami akan menggugurkan dosa sebagaimana angin yang menggugurkan daun dari pepohonan.

Kecintaan syiah kepada sang Imamlah yang membuat mereka pengikut syiah segera bertanya kepada sang Imam mengapa Imam menyerahkan khilafah kepada Muawiyah?. Mereka tidak suka kalau khilafah dipegang oleh para pembenci Imam ahlul bait, sehingga syiah pun menjadi bingung atas tindakan sang Imam. Walaupun begitu mereka tidak berlepas diri dari sang Imam bahkan mereka menghadap sang Imam untuk memperoleh kejelasan. Sikap syiah yang selalu berpegang pada Ahlul bait mengundang rasa iri dan dengki orang-orang seperti hakekat.com. Setelah mengutip riwayat di atas hakekat.com berkata

Pengikut Hasan yang mencintainya malah menjelekkan Hasan dengan mengatakan bahwa Hasan adalah penghina orang beriman. Jika kita melihat lagi keyakinan bahwa para imam adalah maksum maka perbuatan itu adalah tidak dapat digugat, karena dilakukan oleh imam yang maksum, terjaga dari kesalahan. Dalam riwayat ini dinyatakan bahwa Sufyan datang karena dorongan kecintaannya pada Hasan. Kecintaan itu diungkapkan dengan mengatakan : Assalamualaika wahai penghina orang beriman. Cinta macam apa itu?

Padahal justru karena kecintaan syiah kepada sang Imam yang membuat mereka langsung bertanya kepada sang Imam. Tentu saja bagi beberapa orang tindakan Imam Hasan menyerahkan khilafah kepada Muawiyah menimbulkan rasa tidak suka. Bagaimana mungkin khilafah harus dipegang oleh para pembenci Imam ahlul bait?. Bagaimana mungkin khilafah harus dipegang oleh orang zalim?.Bukankah syiah siap sedia berjuang demi Imam Hasan?. Syiah yang sangat mencintai Imam Hasan tidak mau menyimpan rasa suka terhadap sang Imam, oleh karena itu syiah menghadap sang Imam untuk meminta penjelasan atau hakekat dari tindakan beliau. Setelah mendapat penjelasan sang Imam, syiah akhirnya menerima keputusan sang Imam dan tetap teguh untuk berpedoman kepada para Imam Ahlul bait. Si dungu hakekat.com malah meluncurkan kata-kata yang tidak pantas kepada Imam Hasan

Dan imam Hasan nampaknya senang dengan ungkapan kecintaan orang itu. Apakah imam Hasan mau saja terkesan dibodohi, dan percaya begitu saja akan kecintaan orang yang menghinanya? Apakah pengikut Hasan tadi tidak tahu bahwa Hasan adalah maksum yang tidak mungkin berbuat salah? Bagi orang itu, nampak jelas bahwa imam Hasan bersalah, sehingga layak untuk dicela. Subhanallah, inilah akhlak orang beriman terhadap imamnya yang maksum dan mulia?

Begitulah, si dungu hakekat.com selalu gagal memahami riwayat yang ia baca dari kitab-kitab syiah. Pernahkah anda pembaca bertanya-tanya, mengapa hakekat.com mendadak menjadi begitu dungu?.

Jawabannya hanya ada dua, pertama karena ia membaca riwayat-riwayat Syiah dengan nafsu kebencian kepada sang Imam dan para pengikutnya. Si dungu ini hanya dipenuhi iri dengki dan kemarahan terhadap syiah. Jadi harap maklum para pembaca, memang kalau sudah marah orang bisa jadi begitu bodohnya. Atau yang kedua karena memang pada dasarnya hakekat.com itu tidak memiliki kecerdasan yang cukup untuk memahami apa yang ia baca, jadi memang dungu dari sananya.

Pengikut syiah sudah jelas mengakui kemaksuman sang Imam, oleh karena itu mereka segera bertanya kepada sang Imam. Ini merupakan bukti kuat kalau mereka selalu mengembalikan permasalahan apapun kepada sang Imam. Satu hal lagi pengikut syiah sendiri bukanlah orang yang maksum sehingga jika rasa tidak suka pada seseorang membuatnya berkata yang tidak baik, itu karena ia awalnya tidak memahami hakekat perbuatan sang Imam. Ia tidak datang kepada sang Imam untuk mencela, ia datang kepada sang Imam untuk mengeluhkan rasa tidak suka atas tindakan Imam yang tidak ia pahami. Lagi-lagi dalam riwayat tersebut kedatangan Sufyan bukanlah untuk mencela tetapi untuk mengetahui penjelasan Sang Imam, inilah yang ia maksud bahwa ia datang karena kecintaan kepada sang Imam.

Hakekat.com memang tidak bisa menyembunyikan mental nashibinya sehingga dengan mudah ia beranggapan kalau Imam Hasan terkesan dibodohi. Jika anda pembaca melihat tulisan-tulisan hakekat.com, maka anda akan melihat bahwa hakekat.com tidak memiliki kehalusan dalam menggunakan kata-kata -baik itu pernyataan atau perumpamaan- kepada para Imam Ahlul bait. Mungkin cinta kepada ahlul bait versi hakekat.com adalah cinta dalam bentuk kata-kata yang penuh dengan hinaan. Naudzubillah.

Mari kita lihat sisi lain yang terlupakan oleh hakekat.com. Jika ia dengan angkuh mencela syiah yang meninggalkan Imam Hasan -padahal ia tidak bisa membedakan antara syiah sejati dan yang mengaku syiah- maka apa yang akan ia katakan kepada mereka yang justru memerangi Imam Hasan. Siapakah mereka yang menolak mengakui khilafah sang Imam?. Siapakah mereka yang ingin merampas khilafah dari Imam Hasan? Siapakah mereka yang bergegas untuk memerangi Imam Hasan?. Syiahkah atau justru Sunni, cih coba jawab wahai hakekat.com yang dungu. Jangan karena kebencian matamu hanya tertuju kepada syiah lantas bagaimana dengan Muawiyah, Amr bin Ash dan para pengikutnya yang merupakan sahabat kebangganmu. Bukankah mereka nyata-nyata memerangi sang Imam. Kebencian dan kekejian mana yang lebih dari itu. Baiklah, mungkin bukan Sunni tapi salafi nashibi, bukankah mereka salafi nashibi itu selalu memuja Muawiyah bahkan tidak malu-malu salafi nashibi membuat kitab khusus yang penuh kepalsuan mengenai keutamaan Muawiyah. Begitulah mental hakekat.com seorang salafi nashibi begitu mudahnya ia berkata kasar terhadap sang Imam tapi bungkam seribu bahasa atas perilaku idolanya Muawiyah dan Amr bin Ash. Jadi memang benar Imam Hasan adalah Imam maksum yang dibenci oleh salafi nashibi termasuk hakekat.com, Naudzubillah.

Imam Ali Bertaklid Buta Pada Umar bin Khattab Adalah Dusta

Kali ini saya akan membersihkan tuduhan-tuduhan hakekat.com kepada Imam Ali dalam tulisannya Imam Ali bertaklid buta pada Umar bin khattab.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh mulia, dimana Rasulullah SAW menganjurkan umat islam untuk memperbanyak ibadah di antaranya memperbanyak melakukan shalat malam di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW telah memeberikan tuntunan yang jelas bagaimana ibadah yang sebaiknya dilakukan. Dalam bulan Ramadhan Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak shalat malam, Rasulullah SAW tidak pernah menganjurkan atau memerintahkan umatnya untuk shalat tarawih berjamaah. Jika kita melihat riwayat-riwayat shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan maka kita akan mendapatkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengajak orang-orang untuk shalat berjamaah. Hanya orang-orang saja yang berduyun-duyun ikut shalat di belakang Rasulullah. Melihat perilaku para sahabat yang ikut shalat di belakang beliau, Rasulullah SAW menghindar dan kembali masuk kerumahnya. Bukankah hal ini menyiratkan kalau Rasulullah tidak suka dengan perilaku para sahabat itu. Kalau memang dianjurkan tentu Rasulullah akan memerintahkannya dan tidak perlu menghindar dengan masuk ke dalam rumah.

Mari kita simak beberapa riwayat:

Dari Abul Abbas dan Ubaid bin Zurarah dari Abu Abdillah Alaihissalam mengatakan: Rasulullah SAAW menambah rakaat shalatnya di bulan Ramadhan, setelah shalat atamah (shalat isya’) beliau shalat lagi, orang-orang shalat di belakangnya, lalu beliau masuk ke rumahnya dan membiarkan orang-orang shalat di masjid. Lalu beliau keluar lagi ke masjid dan shalat lagi, orang-orang pun berdatangan dan shalat di belakangnya. Rasulullah SAAW selalu masuk dan meninggalkan mereka. Rasulullah SAAW (atau Imam Al Baqir) mengatakan: jangan shalat setelah isya’ kecuali di bulan Ramadhan.

Tahdzibul Ahkam jilid 3 Bab Keutamaan bulan Ramadhan dan Shalat sunnah lebih dari shalat sunnah yang biasa dikerjakan bulan-bulan lain.

Riwayat ini menunjukkan kalau Rasulullah SAW sebenarnya tidak ingin shalat berjamaah, beliau hanya ingin shalat sendiri di malam bulan Ramadhan oleh karena itu Beliau berkali-kali menghindar masuk ke dalam rumah ketika melihat para sahabat ikut shalat di belakangnya.

Begitu pula Imam Ali tidak pernah memerintahkan untuk shalat sunah berjamaah di bulan Ramadhan bahkan sebaliknya

Juga disebutkan dalam sebuah riwayat dari Imam Ja’far As Shadiq: ketika Amirul Mukminin –Ali- tiba di kota Kufah, beliau memerintahkan Hasan bin Ali untuk mengumumkan: Tidak ada shalat jamaah di masjid pada bulan ramadhan, lalu Hasan pun mengumumkan di tengah masyarakat, mendengar pengumuman itu masyarakat berteriak: Duhai ajaran Umar, duhai Ajaran Umar, Hasan pun kembali menghadap Ali, Ali bertanya: Suara apa itu? Hasan menjawab: Wahai Amirul Mukminin, orang-orang berteriak: Duhai ajaran Umar, duhai ajaran Umar, lalu Amirul Mukminin mengatakan: Shalatlah.

Lihat Tahdzibul Ahkam, jilid 3, juga wasa’ilus Syi’ah jilid 8 hal 17-48 Bab Keutamaan bulan Ramadhan dan Shalat sunnah lebih dari shalat sunnah yang biasa dikerjakan bulan2 lain. Begitu juga hadits ini dikuatkan dalam kitab Hada’iq Nazhirah fi Ahkam Al Itrah At Thahirah, karya Yusuf Al Bahrani jilid 10 hal 520-522.

Lihat baik-baik, Imam Ali memerintahkan Hasan bin Ali untuk mengumumkan tidak ada shalat berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan. Orang-orang yang mendengar itu menjadi tidak suka, mereka tidak ingin kalau ajaran Umar -yaitu shalat tarawih berjamaah- dihapuskan sehingga mereka berteriak “duhai ajaran Umar, duhai ajaran umar”. Walaupun orang-orang itu berteriak , Imam Ali tidak menghiraukan teriakan orang-orang. Beliau tetap berpegang teguh pada sunnah Rasul sehingga ia berkata “shalatlah” yaitu shalat seperti yang diajarkan Rasulullah SAW dan kita lihat Rasulullah SAW tidak memerintahkan untuk shalat berjamaah di masjid, Beliau justru ingin shalat sendiri di masjid. Inilah yang dimaksud Imam Ali agar orang-orang shalat tanpa dengan aturan harus berjamaah -ajaran Umar- karena sebenarnya Rasulullah lebih suka shalat sendiri.

Entah mengapa kebodohan hakekat.com selalu terulang. Setelah membawa riwayat Imam Ali di atas, ia berkata

Kita lihat di Amirul Mukminin memerintahkan untuk shalat sunnah berjamaah setelah isya di bulan Ramadhan. Padahal kita tahu bahwa imam Ali adalah maksum –diyakini oleh ummat syiah terpelihara dari kesalahan- seperti kita bahas pada makalah sebelumnya.

Alangkah bodohnya anak manusia yang tidak bisa mengerti kata-kata Tidak ada shalat jamaah di masjid pada bulan ramadhan. Bukankah kata-kata itu yang merupakan perintah Imam Ali.

Hakekat.com itu malah berkata yang lebih aneh lagi

Jika kita melihat jawaban yang muncul dari umat syiah bahwa shalat tarawih adalah buatan Umar bin Khattab, ternyata riwayat-riwayat di atas sesuai dengan ajaran Umar bin Khattab. Ini bisa berarti dua hal, yang pertama, ajaran Umar bin Khattab sesuai dengan ajaran Nabi dan 12 imam maksum, atau para Imam syiah menggunakan ajaran dari Umar bin Khattab.

Cih betapa dungunya, kedua riwayat di atas tidak ada yang menyatakan kalau mendukung ajaran Umar. Riwayat pertama Rasulullah SAW justru berulang kali menghindari shalat berjamaah dengan para sahabat artinya Rasulullah SAW tidak suka dengan ajaran Umar. Riwayat kedua justru isinya adalah perintah Imam Ali bahwa tidak ada shalat jamaah di masjid pada bulan ramadhan. Bukankah ini berarti Imam Ali melarang ajaran Umar.

Jadi kata-kata hakekat.com berikut adalah dusta

Lagipula jika umat syiah masih menganggap shalat tarawih sebagai bid’ah, mengapa para imam syiah menyetujui bid’ah –bahkan mendukungnya- dan tidak menumpasnya?

Para Imam syiah berulang kali melarang bid’ah ini tetapi memang orang-orang seperti hakekat.com lebih suka ajaran Umar ketimbang ajaran Ahlul Bait Rasul. Padahal Umar sendiri mengakui kalau ajarannya adalah bid’ah. Bukankah Umar lebih mengetahui apa yang ia katakan daripada hakekat.com yang banyak dustanya ini. Jika seorang Umar saja beranggapan shalat tarawih berjamaah adalah bid’ah maka apalagi yang perlu diributkan hakekat.com. Sepertinya kebencian terhadap ajaran Ahlul Bait membuat ia kerasukan sehingga riwayat yang justru menolak ajaran umar ia pahami sebagai riwayat yang mendukung ajaran Umar.

Bagian paling keji dari tulisan hakekat.com yang menunjukkan mental nashibinya adalah kata-katanya di bagian akhir yang sungguh sangat tidak pantas

Imam yang maksum bukannya melarang tersebarnya bid’ah tapi malah menggalakkan dan menyetujui bid’ah, apakah Ali akan dibangkitkan dalam keadaan berbau busuk di hari kiamat? Atau dia akan terkena laknat Allah dan binatang–binatang kecil?

Cih betapa hinanya hakekat.com berani berkata begitu kepada Imam Ali. Inilah hakekat tersembunyi hakekat.com yang merupakan antek nashibi yang ingin memecah belah Umat Islam. Tidak cukup berdusta, hakekat.com memuaskan nafsunya dengan menghina Imam Ahlul Bait. Naudzubillah.

Mukjizat Para Imam Syiah

Para Imam Ahlul bait adalah washi Rasul, pewaris Rasul dan penjaga syariat Allah SWT. Imam-imam ahlul bait adalah semulia-mulia manusia setelah para Rasul. Imam-imam ahlul bait adalah manusia pilihan yang diangkat oleh Allah SWT sebagai penerus Kenabian demi menjaga syariat Allah. Bukankah syiah dan sunni sepakat mengakui kalau Rasulullah SAW telah mengatakan “aku tinggalkan dua pusaka yang apabila kalian berpegang kepadanya maka kalian tidak akan tersesat yaitu kitab Allah dan ithrahku ahlul baitku”. Tidak diragukan lagi kalau para Imam Ahlul bait yang dimaksud oleh Rasulullah SAW.

Bukankah dengan jelas kita dapat melihat kalau Imam ahlul bait bukanlah manusia biasa tapi manusia pilihan sehingga sangat wajar sekali jika manusia-manusia pilihan itu memiliki karamah-karamah yang sering dianggap sebagai mukjizat. Apakah adanya mukjizat ini berarti meragukan kekuasaan Allah SWT?. Apakah karamah-karamah tersebut menunjukkan kalau para Imam lebih berkuasa dari Allah SWT?. Sungguh betapa dungunya orang yang berpendapat demikian. Ketahuilah wahai para pembaca, semua karamah atau mukjizat yang dimiliki oleh para Imam Ahlul bait semuanya terjadi atas izin Allah. Justru semua itu menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang sangat besar. Kami kaum syiah meyakini dengan pasti bahwa tiada daya upaya yang dimiliki makhluk dan hanya Allah SWT yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu. Tetapi kami kaum syiah juga meyakini kalau Allah SWT dapat saja memberikan kekuasaan yang berupa karamah atau mukjizat kepada siapapun yang Allah kehendaki. Sedikitpun hal ini tidak mengurangi kekuasaan Allah SWT.

Kami kaum syiah meyakini bahwa diantara mereka yang mendapat karamah dan mukjizat dari Allah SWT adalah para Nabi dan Imam. Bukankah kita seringkali membaca dalam Al Quran kisah-kisah yang menunjukkan mukjizat luar biasa yang dimiliki oleh para Nabi dan orang-orang tertentu. Ingatkah anda wahai pembaca mukjizat Nabi Musa dimana tongkatnya berubah menjadi ular besar, atau mukjizat Nabi Musa ketika ia membelah laut dengan tongkatnya. Ingatkah anda wahai pembaca kisah pertemuan Nabi Musa dengan seseorang yang memiliki pengetahuan pengetahuan ghaib yang tidak diketahui oleh Nabi Musa. ingatkah anda wahai pembaca kisah seorang pembantu Nabi Sulaiman-orang yang dianugerahi ilmu dari sisi Allah- yang dapat memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap mata. Ingatkah anda mukjizat Nabi Isa yang dapat menghidupkan orang mati. Ingatkah anda kisah Nabi Ibrahim yang tidak terluka sedikitpun ketika dibakar dalam keadaan hidup-hidup dan Ingatkah anda akan kisah Nabi kita Muhammad SAW yang mulia dimana ia telah membelah bulan di hadapan orang-orang kafir. Jadi, apa yang patut diherankan dari semua mukjizat itu dan kami kaum syiah meyakini kalau semua itu terjadi atas izin Allah SWT.

Semua karamah dan mukjizat yang dimiliki baik para Nabi dan Imam bukanlah kemampuan mereka tetapi anugerah Allah yang dilimpahkan atas mereka. Jadi sangat tidak tepat kalau ada yang berkeyakinan bahwa para Nabi dan Imam adalah superhero yang luar biasa dengan kemampuan-kemampuan yang istimewa. Tetapi inilah yang terjadi pada si pendosa hakekat.com. hakekat.com dengan kemampuan intelek yang terbatas tidak bisa memahami hal yang sederhana seperti ini. Baginya orang-orang yang memiliki mukjizat adalah orang dengan kemampuan luar biasa yang dapat menggunakan kemampuan itu seenaknya kapan saja dan dimana saja. Cih coba lihat kata-kata hakekat.com yang sesat itu dalam tulisannya Mukjizat para imam syiah

Mengapa Ali tidak menggunakan mukjizatnya di saat-saat genting seperti ini?

Mengapa Ali tidak menggunakan kesaktiannya untuk membela diri dan membela Agamanya dalam masa pemerintahan tiga khalifah, begitu juga saat berperang melawan Muawiyah yang mana Ali tetap saja kalah meskipun membawa pedangnya?

juga kata-kata rendahnya terhadap Imam Hasan

Begitu juga Hasan, mengapa dia tidak menggunakan mukjizatnya?

Hasan lengser dari jabatan khalifah dan menyerahkannya pada Muawiyah, dengan begitu dia dan tentaranya telah rela berada di bawah pimpinan muawiyah –walaupun tentara Hasan yang telah berbaiat pada Ali untuk mati dalam perang, sedangkan saat itu mereka belum berperang, jumlah mereka ada 40.000 pasukan seperti dikisahkan oleh Thabari- padahal muawiyah adalah seorang yang kafir –nenurut syi’ah-, sedangkan saat itu Hasan memiliki senjata ilahi yang dapat menundukkan seluruh dunia, tetapi tidak dapat menundukkan tentara Muawiyah, bahkan Hasan menyerahkan jabatan khalifah kepada Muawiyah, sedangkan Hasan mampu menundukkan Muawiyah dan seluruh dunia dengan pedangnya –sekali lagi ini menurut anggapan syi’ah-.

hakekat.com yang kurangajar ini juga berkata yang tidak-tidak tentang Imam Husain

Begitu pula Husein yang dipanggil oleh syi’ahnya yang siap untuk mendukungnya di Ira, tapi mereka malah meninggalkan Husein sendirian, hignga akhirnya Husein dikepung oleh tentara Yazid dan dipaksa untuk menyerah tapi Husein tetap menolak, dan terpaksa berperang sendirian, hanya bersama sekelompok kecil pengikutnya beserta kaum wanita dan anak-anak, sementara dia membawa senjata yang terhebat –senjata mukjizat yang menurut syi’ah dimiliki oleh seluruh imam mereka-, mengapa dia tidak menggunakan senjatanya untuk melindungi diri dan keluarganya?

Tahukah wahai pembaca apa yang salah dengan hakekat.com? jika anda tidak tahu maka saya beritahu “ada yang salah dengan otak hakekat.com”. Saya tidak sekedar menghina lho, kami kaum syiah meyakini kalau mukjizat para Nabi dan Imam adalah kekuasaan Allah SWT tetapi hakekat.com yang sesat justru beranggapan mukjizat itu adalah senjata yang dimiliki oleh para Imam yang dapat digunakan kapan saja.

Bukankah kita telah membaca bahwa sejarah para Nabi dipenuhi dengan penderitaan yang sangat tetapi tidak dapat disangkal kalau para Nabi memiliki banyak mukjizat. Bukankah Nabi kita Muahmmad SAW punya mukjizat yang hebat sehingga bisa membelah bulan, bukankah Nabi kita Muhammad SAW lebih mulia dari Nabi Musa. Lantas dengan itu apakah kita pantas mengatakan. Mengapa Nabi tidak menggunakan mukjizatnya untuk melawan kaum kafir Quraisy?. Mengapa perlu ada perang yang berkali-kali, bukankah cukup dengan mukjizat Nabi kita yang mulia maka para kafir quraisy akan dengan mudah dihancurkan?. Mengapa Nabi kita Muhammad SAW tidak berdoa kepada Allah SWT agar menghancurkan kaum kafir Quraisy dengan sekali libas atau satu teriakan saja atau mengguncangkan dan membelah kota tempat tinggal kaum kafir Quraisy. Bukankah bulan saja bisa terbelah apalagi hanya kota kaum kafir yang cuma seupil. Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh hakekat.com yang sesat itu. Tidakkah ia berhenti sejenak mengoreksi cara berpikirnya yang sangat sangat dangkal.

beranikah hakekat.com yang dungu itu mengatakan “apakah masuk akal Allah SWT melarang kemampuan Nabi Muhammad yang bisa membelah bulan untuk digunakan membelah kota kaum kafir Quraisy?”. Seperti yang hakekat.com katakan dengan sombongnya terhadap para Imam ahlul bait

Apakah masuk akal bila Allah melarangnya menggunakan senjata itu?

Apakah akal bisa menerima alasan ini?

Bukankah kaum kafir Quraisy telah banyak menyakiti Rasul dan menimbulkan penderitaan yang tidak terkatakan, bukankah kaum kafir itu sudah nyata-nyata menentang Allah dan RasulNya. Masuk akalkah jika Allah SWT melarang Nabi SAW menggunakan kemampuannya -senjatanya-. Cih begitulah cara pikir yang sesat dan keblinger orang yang tidak pernah menggunakan akalnya dengan benar.

hakekat.com ini telah memisahkan mukjizat para Nabi dan Imam dari kekuasaan Allah sehingga ia berkeyakinan bahwa mukjizat para Nabi dan Imam itu adalah senjata yang dapat digunakan kapan saja dengan seenaknya.

Perhatikan wahai pembaca, jangan mudah terprovokasi oleh logika yang bodohnya minta ampun yang memenuhi semua tulisan hakekat.com. Tidak hanya bodoh, hakekat.com bahkan berani mengatakan kata-kata yang kurang ajar pada Imam ahlul bait, masa’ ia bilang Imam ahlul bait hidup dalam keadaan hina

Para imam memiliki kekuatan luar biasa, lalu hidup dalam keadaan hina dan ketakutan, ajaran mereka tertindas dan tidak banyak diikuti, pengikutnya selalu dizhalimi dan diusir, dan tidak mau menggunakan kekuatan luar biasa [baca mukjizat] yang ada pada mereka?

jadi hidup semacam muawiyah dan yazid yang anda maksud mulia wahai hakekat.com. Cih sangat tidak salah kalau kita mengatakan hakekat.com ini jelas-jelas seorang Nasibi pembenci ahlul bait

Mari kita menantang hakekat.com yang lemah akal pikirnya ini, bukankah ia telah berani mengatakan

Para imam selalu memperlihatkan kekuatan mukjizat pada pengikut mereka, sehingga para pengikut menyaksikan mukjizat yang menakjubkan dan membuat mereka melihat langsung mukjizat para imam, teapi tidak ada satu pun dari mereka yang berani mencoba untuk bertanya: mengapa para imam memiliki kekuatan luar biasa [baca mukjizat] tetapi para imam dan juga pengikutnya, juga ajaran yang dibawa para imam selalu dalam keadaan hina?

Akal yang sehat dapat memastikan bahwa riwayat-riwayat mukjizat para imam adalah dusta yang mengatasnamakan ahlul bait, sebagaimana para imam dikatakan meyakini ajaran imamah, padahal semua itu dusta.

Maka beranikah ia mendustakan semua ayat-ayat Al Quran yang menunjukkan mukjizat luar biasa yang dimiliki para Nabi. Bukankah para Nabi juga hidup dalam keadaan menderita -perhatikan saya tidak menggunakan kata kurang ajar “hina” seperti yang digunakan hakekat.com-. Tidak adakah manusia yang bertanya, mengapa para Nabi yang memiliki kekuatan luar biasa [baca mukjizat] tetapi hidup mereka dipenuhi penderitaan oleh para penentangnya. Akankah hakekat.com mengatakan bahwa akal yang sehat memastikan bahwa ayat Al Quran tentang mukjizat para Nabi adalah dusta. Jika ia memang berani maka selain Nasibi ternyata hakekat.com juga seorang yang kafir akan ayat-ayat Allah SWT.

Menggugat Tulisan “Imam Bukan Manusia”

Sungguh tidak terbayangkan kalau kata-kata buruk seperti ini bisa keluar dari mulut seorang muslim. Si pendusta hakekat.com dengan tidak tahu malu mengatakan kalau Imam ahlul bait bukan manusia. Apakah ia tidak tahu siapa yang sedang ia bicarakan?. Apakah semua keutamaan  yang dimiliki Imam ahlul bait tidak bisa membuatnya berhati-hati dalam berbicara?. Saya yakin ia tahu semua itu tetapi rasa kebencian kepada Imam yang membludak di dalam hatinya telah membuat ia berani berkata keji kalau Imam ahlul bait bukan manusia. Cukuplah dengan ini kita menilai orang seperti apa hakekat.com, tidak lain dan tidak bukan ia seorang Nasibi yang keji.

Memang kalau kita membaca tulisan hakekat.com maka kita dapat melihat pengakuan dirinya kalau ia adalah manusia yang selalu berbuat zhalim dengan bermaksiat pada Allah, dan selalu bersifat kafir terhadap nikmatNya. Eit saya tidak menuduh, silakan pembaca melihat betapa ia berkata

Manusia selalu berbuat zhalim dengan bermaksiat pada Allah, dan selalu bersifat kafir terhadap nikmatNya, tidak mau mengakui dan mensyukuri apa yang diberikan Allah padanya secara gratis, tanpa usaha dan upaya dari manusia. Misalnya nikmat udara, kapan kita berusaha mencari udara untuk bernafas?

Itulah yang ia katakan dan kalau hakekat.com merasa dirinya manusia, maka berdasarkan perkataannya sendiri maka ia adalah orang yang selalu berbuat zalim, bermaksiat kepada Allah dan kufur akan nikmat Allah, Naudzubillah.

Sudah selayaknya kalau seorang muslim meyakini bahwa ada orang-orang yang dijaga oleh Allah SWT terkait dengan tugas yang diembankan Allah SWT kepadanya. Seorang Nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalahnya, haruslah seorang yang terjaga oleh Allah SWT atau dengan kata lain “maksum”. Karena jika ia tidak terjaga maka bisa saja ia lupa atau salah dalam menyampaikan risalah Tuhan. Hal yang sudah tentu sangat tidak dikehendaki oleh Allah SWT. Oleh karena itu demi menjaga kemurnian risalah dan syariat Allah yang dibawa oleh para Nabi maka Allah mensifatkan keterjagaan kepada para Nabi alias maksum.

Orang yang berakal tidak sulit memahami hal yang mudah seperti ini tetapi nasibi hakekat.com yang keji ini tidak mampu memahami hikmah dibalik kemaksuman para Nabi dan Imam. Padahal Ulama yang mulia Muhammad Ridha Al Mudzaffar telah menjelaskan dengan baik seperti yang telah dikutip hakekat.com –seperti biasa nasibi ini tidak memahami apa yang ia baca-

Quraish menyebutkan pada halaman 100 tentang sifat imam, yang dinukilnya dari kitab Aqaid Al Imamiyah karya Muhammad Ridha Al Mudzaffar:
Kami percaya bahwa imam, seperti Nabi, haruslah terpelihara dari semua keburukan dan kekejian, yang lahir dan yang batin, sejak usia kanak-kanak sampai dengan kematian, dengan sengaja atau lupa. Dia juga harus terepelihara dari lupa, dan kesalahan karena para imam adalah pemelihara syariat dan pelaksana ajaran agama, keadaan mereka dalam hal tersebut seperti kedaan Nabi. Dalil yagn mengantar kami percaya tentang keterpeliharaan Nabi (dari dosa) dan kesalahan itu jugalah yagn mengantar kami percaya tentang keterpeliharaan pada imam, tanpa perbedaan. (Aqaid Al Imamiyah hal 51)

Alih-alih memahami, hakekat.com dengan keji malah menuduh yang bukan-bukan kepada para Nabi dan Imam, lihatlah baik-baik ia bahkan memasukkan para Nabi dan Imam sebagai manusia pada umumnya yang zalim dan kufur akan nikmat Allah, manakah perkataan yang lebih keji dari ini.

Hakekat.com ini dengan tidak tahu malu telah berkata

Jika kita bandingkan keterangan ini dengan ayat-ayat di atas, sekilas akan terlintas di benak kita sebuah kesimpulan, yaitu bahwa imam bukanlah manusia, karena manusia secara umum bersifat zhalim dan mengkufuri nikmat Allah.

Dari kata-katanya kita dapat melihat bahwa untuk dikatakan sebagai manusia maka seorang imam juga harus bersifat zalim dan kufur akan nikmat Allah, lihat baik-baik saya tidak sedang menuduh yang bukan-bukan karena kata-kata hakekat.com itu sangat jelas dalam tulisannya

Hakekat.com ini dengan angkuh terus berkoar

Ternyata tidak kita temukan di sana dalil dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi, tetapi dalil yang dikemukakan adalah dalil akal, yang juga dituliskan dalam nukilan Ust Quraish, yaitu: karena para imam adalah pemelihara syariat dan pelaksana ajaran agama, tetapi kita heran, karena setelah menelaah lagi kitab suci Al Qur’an kita temukan ayat-ayat yang meyatakan bahwa Nabi pernah melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan; di antaranya adalah ayat berikut:

Memang sudah sewajarnya kita memaklumi kedunguan hakekat.com, sangat pantas kalau untuk orang sekeji itu yang berani menghina para Imam ahlul bait adalah orang-orang yang tidak berilmu dan tidak berakal. Jika ia tidak mengakui kalau para Nabi adalah maksum maka bagaimana ia bisa yakin kalau ajaran para Nabi itu murni alias terjaga. Kalau ia meyakini para Nabi bisa salah dan lupa maka bagaimana ia bisa menjamin Nabi tidak salah dan tidak lupa ketika menyampaikan ajaran Islam. Sekali lagi tidak sulit untuk orang berakal memahaminya. Mengenai dalil dari Al Quran dan Sunnah, apakah ia tidak pernah membaca

Al Hasyr ayat 7
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya

Bukankah Allah SWT sendiri telah mengatakan bahwa kita harus selalu menerima keputusan Rasul, lha kalau memang Nabi bisa salah maka keputusannya juga bisa salah dong tapi kok Allah SWT menuntut ketaatan mutlak kepada Nabinya. kemudian bukankah seorang muslim harus berpegang teguh kepada Sunnah Rasul, lho kalau Rasul bisa lupa dan salah maka bisa saja Rasul lupa dengan sunnahnya dan salah menyampaikan sunnahnya. Anehnya kita tidak pernah memikirkan hal ini ketika membaca Sunnah Nabi. Sebagai seorang muslim, kita memang harus dituntut percaya dengan Sunnah Rasul dan tidak boleh meragukannya. Saya ingatkan wahai pembaca, berhati-hatilah dengan nasibi hakekat.com ini karena akidahnya sudah meragukan Al Quran dan Sunnah Nabi.

Mari kita lihat ayat-ayat yang dipakai nasibi hakekat.com

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 66:1)

Memang hakekat.com ini begitu bodohnya dalam memahami ayat Al Quran, apakah ia tidak pernah membaca asbabun nuzul ayat ini. Tidak tahukah ia kalau Ayat ini sebenarnya sedang menyindir istri-istri Nabi yang membuat Nabi mengharamkan sesuatu atas dirinya, silakan pembaca membuka surat At Tahrim dan lihat ayat pertama sampai kelima. Bukankah ayat-ayat ini berkenaan dengan dua orang istri nabi yang bersekongkol karena cemburu agar Nabi tidak melakukan sesuatu demi menyenangkan mereka. Inti kesimpulan ayat-ayat ini jika kita melihat asbabun nuzulnya adalah Allah SWT sedang menegur istri-istri Nabi yang bersekongkol sehingga membuat Nabi mengharamkan sesuatu atas dirinya. Cih payah sekali kalau harus menjelaskan berpanjang-panjang untuk hal seperti ini, cukup kita membaca saja ayat-ayat berikutnya

Semoga Allah mema’afkanmu. Mangapa kamu memberi ijin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta. (QS. 9:43)

Apakah ayat ini sedang mengatakan kesalahan Nabi, siapapun yang memahami asbabun nuzul ayat ini akan mengetahui kalau Nabi SAW telah bersikap apa adanya. Bukankah ayat ini menceritakan para sahabat Nabi yang tidak pergi berperang kemudian Nabi memaafkan mereka. Tentu Nabi SAW tidak mengetahui dengan pasti alasan para sahabat Nabi tersebut dan untuk itulah Allah SWT telah menurunkan ayat tersebut untuk memberikan kejelasan bahwa diantara para sahabat Nabi yang tidak ikut berperang itu, ada yang memang uzur dan ada pula yang berdusta kepada Nabi.

Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 8:67)

Apa benar ayat ini dimaksudkan untuk mencela Nabi atau menunjukkan kesalahan Nabi. Sekali lagi hakekat.com memang miskin sekali dengan tafsir Al Quran. Tidakkah ia melihat kata-kata yang sepatutnya membuat ia berhati-hati untuk memahami kalau ayat ini ditujukan pada Nabi. Coba lihat kata-kata dalam ayat tersebut yaitu Kamu menghendaki harta benda duniawiah. Wahai para pembaca yang muslim apakah pernah terpikir dalam benak kalian kalau Nabi kita yang mulia adalah orang yang menghendaki harta benda dunawiah? Sungguh sangat tidak pantas kalau kita berpikir yang bukan-bukan begitu terhadap seorang Nabi yang telah dimuliakan Allah SWT. Tetapi si hakekat.com ini dengan mudahnya menisbatkan banyak hal yang tidak pantas kepada Nabi. Camkan wahai orang yang dungu, ayat di atas sedang mencela perilaku para sahabat yang memanfaatkan para tawanan dengan meminta uang tebusan demi menghendaki harta benda duniawiah. Hal inilah yang menyebabkan Allah SWT memberi peringatan kepada Nabi atas perilaku para sahabat yang tidak pantas.

Dengan gayanya yang sok memahami, si pendusta hakekat.com kemudian berkata

Ini jelas bertentangan dengan pernyataan Muzaffar di atas. Bahkan dari pernyataan Muzaffar di atas dapat kita simpulkan bahwa Nabi yang berbuat kesalahan tidak layak mengemban syareat, apakah Nabi tidak layak mengemban syareat? Lalu apakah Allah salah memilih Nabi?

Sepertinya andalah yang salah mensifatkan sesuatu kepada Nabi wahai hakekat.com karena bagi anda seorang Nabi adalah orang yang bisa salah dalam mengemban syariat, naudzubillah

Hakekat.com semakin menjadi-jadi dengan mengatakan bahwa para Nabi juga bisa lupa

Malah bisa kita simpulkan lagi dari pernyataan Muzaffar di atas bahwa syiah meyakini para imam memiliki kelebihan dibanding para Nabi, karena para imam tidak pernah melakukan kesalahan maupun melupakan sesuatu, berbeda dengan para Nabi yang bisa saja lupa, seperti Nabi Musa yang lupa akan ikannya:
Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. (QS. 18:61)

Apa pengertian lalai dalam ayat di atas?. Adakah itu kesalahan Nabi Musa. Bukankah disana perkataan lalai tertuju pada mereka. Artinya Nabi Musa pergi bersama seseorang, dan apakah mustahil jika kita beranggapan kalau orang itulah yang ditugasi untuk mengawasi ikan tersebut. Dalam hal ini orang itulah yang lalai akan ikannya, tetapi digunakan kata-kata mereka karena memang mereka berdua yang melakukan perjalanan sambil membawa ikan. Sungguh tidak sulit kita memahami dengan tafsiran yang mensucikan para Nabi. Tetapi sepertinya hal itu mustahil dilakukan oleh orang-orang nasibi seperti hakekat.com

Anehnya hakekat.com yang begitu mustahil untuk memahami ayat-ayat Al Quran mendadak merasa mampu memahami kitab mahzab orang lain. Duhai betapa kebodohan itu sudah terlalu sangat

Mari kita lihat kata-kata orang sok ini

Sementara itu dalam riwayat dari para imam, disebutkan lebih jelas lagi bahwa imam memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh manusia. Dalam kitab Al Kafi jilid 1 hal 258 disebutkan: Bab Para Imam mengetahui Kapan mereka mati, mereka tidak mati kecuali ketika mereka menginginkannya.
Sementara Allah menjelaskan dalam Al Qur’an:
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (Ali Imran 145)

Cih betapa dungunya, apakah ia benar-benar membaca riwayat dalam bab tersebut. Kalau memang benar sudah membaca maka ia pasti akan bisa memahami kalau kematian para Imam telah ditetapkan oleh Allah SWT dan telah diberitahukan kepada para Imam atas izin Allah SWT dan tidaklah seorang Imam menginginkan kematian kecuali sesuai dengan apa yang Allah SWT tetapkan.

Bab Para Imam mengetahui seluruh ilmu yang diketahui seluruh Malaikat dan Nabi.
Bab Para imam mengetahui segala yang telah terjadi dan apa yang belum terjadi, mengetahui segala sesuatu.
Padahal Allah menceritakan dalam Al Qur’an tentang NabiNya:
Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku.” Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya). (QS. 6:50)

Nabi dan Imam mengetahui sesuatu atas izin Allah, kami telah membawakan riwayat tentang ilmu Nabi dan imam ini dalam tulisan kami sebelumnya. Jadi sangat tidak nyambung kalau hakekat.com mengajukan pertanyaan

Lalu mana yang lebih super, Nabi yang tidak tahu hal ghaib atau imam yang mengetahui segala sesuatu?

Ketahuilah wahai orang bodoh, tidak ada yang lebih super karena semua itu terjadi atas kehendak Allah SWT. Baik para Nabi dan Imam mendapat ilmu dari Allah SWT.

Cih tidak puas dengan semua klaim dungunya, hakekat.com menunjukkan kata-kata keji

Para Nabi adalah manusia terbaik, namun imam lebih baik daripada para Nabi ?, karena Nabi masih bisa melakukan kesalahan namun para imam tidak? Atau jangan-jangan para imam bukanlah manusia??!

Bagi Syiah, Nabi dan Imam adalah maksum atau terjaga dari kesalahan karena ini terkait dengan tugas mereka sebagai pengemban syariat Allah SWT. Keterjagaan dari Allah SWT adalah hal yang bersifat niscaya demi menjaga kemurnian syariat Allah SWT. Memang benar Allah SWT lah yang menjaga kemurnian risalahNya dan bentuk penjagaan Allah SWT tersebut adalah dengan mensifatkan kemaksuman kepada para Utusan dan pengemban RisalahNya.

Akhir kata kita katakan bahwa para Imam sebagai washi Rasul adalah manusia yang mulia, manusia yang ditetapkan Allah SWT melalui lisan Rasulnya bahwa mereka para Imam Ahlul Bait adalah pegangan umat islam agar tidak tersesat. Jadi Imam memang manusia, dan hakekat.com yang keji ini memang seorang manusia -yang seperti ia katakan sendiri- adalah selalu berbuat zalim, bermaksiat kepada Allah SWT dan kafir akan nikmat Allah, bukankah begitu harusnya manusia –menurut perkataan hakekat.com-. Lihat saja, hakekat.com memang zalim dan bermaksiat kepada Allah ketika mengatakan dengan keji kalau Imam ahlul bait bukan manusia. Atau akankah hakekat.com menolak untuk dikatakan selalu berbuat zalim, bermaksiat kepada Allah dan kafir akan nikmat Allah, kalau memang begitu maka jangan-jangan pemilik situs hakekat.com bukan manusia.