Hakekat.com Situs Pendusta dan Kedunguannya Tentang Sejarah

Hakekat.com situs yang dibangga-banggakan oleh para Nashibi tidak lebih dari seorang pendusta lagi dungu. Betapa tidak, orang ini berbicara dengan gaya sok seolah-olah ia paling tahu paling mengerti soal mahzab syiah padahal hakekatnya ia tidak lebih seorang pendusta. Mungkin para pembaca yang awam mudah sekali terkesima dengan bualan-bualannya tetapi perhatikanlah baik-baik wahai pembaca jika anda semua menyediakan waktu sedikit saja untuk membaca kitab-kitab asli mahzab Syiah Ahlul Bait maka anda akan mengetahui hakekat dusta dari situs hakekat.com tetapi sungguh sayang seribu kali sayang masih saja ada orang bodoh yang mau mengenal Syiah dari situs nashibi hakekat.com.

Ternyata dan ternyata tong kosong nyaring bunyinya, hakekat.com mengaku sok pintar dengan rumah orang lain tapi ia buta akan rumahnya sendiri. Cih sungguh tak tahu malu dan hakekat.com tak pernah menyadari akan kebodohannya. Para pembaca yang terhormat maka perhatikanlah bukti jelas yang akan satria sampaikan, bukti kalau hakekat.com berdusta atas nama sejarah bukti kalau hakekat.com tidak memiliki keilmuan yang mapan bahkan tentang sumber mahzabnya sendiri dan orang seperti itu sungguh tidak layak berbicara mahzab orang lain. Lihatlah apa yang ia tulis dalam salah satu tulisannya

dusta hakekat.com

hakekat.com berdusta

Baca dan baca maka ternyata ia seorang pendusta, hakekat.com dengan gaya angkuh berkata “sejarah tidak pernah mencatat adanya upaya dari Abbas paman Nabi utnuk menuntut harta warisan seperti yang dilakukan Fatimah”. Pemilik situs hakekat.com ternyata tidak pernah membaca kitab sejarah, ia juga tidak pernah membaca kitab-kitab hadis. Huh apa hakekat.com tidak pernah membaca kitab yang katanya paling shahih setelah Al Quran yaitu Shahih Bukhari?. Ternyata tidak, buktinya Upaya Abbas menuntut harta warisan Fadak tercantum dengan jelas dalam Shahih Bukhari, sungguh tak disangka kitab tershahih malah didustakan oleh hakekat.com. Kalau para pembaca yang awam tidak percaya maka silakan lihat Shahih Bukhari yang satria kutip dari situs ummulhadits.org

KIsah Fadak Shahih Bukhari

KIsah Fadak Shahih Bukhari

Shahih Bukhari [kitab kebanggaan hakekat.com] adalah sebaik-baik bukti yang menunjukkan kedustaan hakekat.com. Cih kalau kitab panutannya sendiri berani ia dustakan apalagi kitab mahzab Syiah yang sangat ia benci. Maka sungguh patut kita bertanya-tanya Dimana letak kejujuran ilmiah tulisan-tulisan hakekat.com. Beginilah akibatnya jika menurutkan hawa nafsu semata, hatinya yang penuh kebencian terhadap Syiah dan Ahlul Bait telah membutakan akalnya. Apakah kitab Shahih Bukhari itu sukar didapat? sungguh mustahil diterima akal kalau hakekat.com mengaku membaca kitab-kitab Syiah [yang menurut hakekat.com susah dijangkau atau diakses oleh orang awam] padahal untuk kitab Shahih Bukhari yang beredar luas dan sangat mudah dijangkau ternyata hakekat.com tidak mampu untuk sekedar membacanya. Mahzab apa yang dianut oleh pemilik situs hakekat.com?. Kitab apa yang sebenarnya menjadi pegangan hakekat.com, Kalau Shahih Bukhari kitab pegangan kaum Sunni tidak menjadi pegangan hakekat.com lantas mahzab apakah hakekat.com?. Beginilah pembaca akhlak situs pendusta dan nashibi Hakekat.com. Apa faedah dari bukti nyata yang satria paparkan?. Pikirkanlah wahai pembaca yang budiman, jika hakekat.com dengan mudah  dan tidak segan-segan mendustakan Kitab Shahih Bukhari yang menjadi pegangan mahzabnya maka akan sangat mudah sekali bagi hakekat.com untuk berdusta atas nama kitab-kitab Mahzab Syiah [yang tentu sangat dibenci hakekat.com]. Camkanlah dan mari kita sama-sama berdoa semoga penyakit hakekat.com ini tidak menjangkiti kita semua.

Iklan

Al Qur’an di Mata Salafy [3]

Salafy biasa mencari dalih untuk membela agamanya, penganut agama salafy seperti hakekat.com memiliki jurus andalan untuk melindungi keyakinannya dari cercaan Umat Islam. Mau tahu jurus andalan hakekat.com dan ulamanya, simak baik-baik makalah ini.

Pada bagian pertama dan kedua telah dikupas mengenai kenyataan pahit bahwa adanya perubahan Al Qur’an adalah hal yang aksiomatis dalam mahzab salafy. Mengingkari adanya perubahan Al Qur’an sama dengan mengingkari manhaj salafy.Karena sudah jelas bahwa mahzab salafy dibangun atas dasar pemahaman sahabat sebagai penghulu para salafy. Bagi salafy sahabat Nabi adalah manusia pilihan Allah yang merupakan manusia terbaik. Sahabat Nabi bagi salafy adalah orang yang mengemban tugas untuk menjaga syariat Allah SWT.

Nuruddin Ali Abu Bakar Al Haitsami –seorang ulama panutan salafy- dalam kitab Majma az Zawaid jilid 1 hal 428 dan Ahmad bin hanbal –imam kebanggan salafy- dalam Musnadnya jilid 1 hal 379 menuliskan atsar dari Abdullah bin Mas’ud berikut

إن الله عز و جل نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمد خير قلوب العباد فاصطفاه لنفسه وابتعثه برسالاته ثم نظر في قلوب العباد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد وزراء نبيه صلى الله عليه و سلم يقاتلون عن دينه فما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رآه المسلمون سيئا فهو عند الله سيئ

Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba-Nya dan Allah mendapatkan hati Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah sebaik-baik hati manusia. Maka Allah memilih Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai utusan-Nya. Allah memberikan kepadanya risalah, kemudian Allah melihat dari seluruh hati para hamba-Nya setelah Nabi-Nya, maka didapati bahwa hati para shahabat merupakan hati yang paling baik setelahnya. Maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang atas agama-Nya. Apa yang dipandang para shahabat Rasul itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah. Dan apa yang mereka pandang jelek, maka di sisi Allah itu jelek”.

Nuruddin mengatakan kalau orang-orang yang meriwayatkan atsar ini adalah terpercaya. Begitu pula jika kita melihat tulisan-tulisan ulama salafy maka dapat kita lihat bahwa mereka penganut agama salafy dengan bangga mengutip hadis ini dan berhujjah dengannya.

Jadi sudah merupakan aksioma yang tak terbantahkan kalau sahabat Nabi adalah hujjah panutan salafy. Sehingga keyakinan sahabat Ibnu Umar bahwa sudah terjadi perubahan Al Qur’an –sebagaimana yang telah dibahas pada bagian kedua- seharusnya merupakan aqidah yang diyakini oleh salafy sejati. Tetapi aneh bin ajaib wahai pembaca ternyata ada ulama salafy yang mengingkari aqidah ini, mungkinkah demikian? Atau hanya kura-kura dalam perahu.

Tentu bagi salafy sejati, seorang sahabat Nabi harus menjadi pegangan sehingga perkataan ulama salafy yang menentang aqidah Ibnu Umar harus dibuang jauh-jauh dan dinyatakan dhalalah bin dhalalah. Bukankah berdasarkan kitab salafy, sahabat itu pilihan Allah SWT jadi yang menentang sahabat sudah pasti sesat. Tapi lagi-lagi aneh bin ajaib, para pembaca mungkin pernah bertemu dengan teman penganut salafy yang menolak untuk meyakini adanya perubahan Al Qur’an.. Kalau memang begitu maka sebenarnya teman anda itu bukan salafy sejati alias salafy gadungan atau mungkin ia sedang melakukan taqiyyah untuk melindungi aqidahnya.

Memang merupakan konsekuensi yang sangat berat, tetapi mengapa kita masih mendengar teman-teman kita yang kebetulan salafy, yang marah ketika diajak bicara masalah perubahan Al Qur’an, dia tidak bisa menerima jika salafy dikatakan meyakini perubahan Al Qur’an. Satria tambahkan, bukan hanya penganut salafy yang “amatir” [kroco] yang mengingkari, tetapi ada ulama mereka yang mengingkari juga.

Pertanyaannya, mengapa mereka mengingkari kenyataan yang nampak jelas dalam kitab mereka sendiri? Menurut satria ada dua sebab:
1. Karena memang mereka bertaqiyah. Padahal menurut agama salafy taqiyyah itu sama saja dengan berdusta. Apakah ini berarti dalam mnhaj salafy dusta dihalalkan bagi penganutnya dan diharamkan bagi orang lain.
2. Karena mereka benar-benar tidak tahu dan mengingkari hal itu, tetapi mereka tidak sadar akan konsekuensinya yang amat berat, yaitu keluar dari manhaj salafy dan mendapat predikat dhalalah bin dhalalah. Padahal menurut salafy, mereka adalah golongan yang selamat dari 73 jenis firqah dimana yang 72 sisa-nya masuk neraka. Mungkin bagi salafy keluar dari manhaj salafy berarti mengambil tiket ke neraka.

Perlu anda pembaca yang budiman ketahui bahwa salafy memiliki alergi ketika kita ajak dialog tentang masalah perubahan Al Qur’an. Sebenarnya alergi itu tidak perlu terjadi, karena bagaimana seorang penganut sebuah keyakinan bisa alergi dengan ajaran keyakinan yang dianutnya? Kalo mau alergi tidak usah dianut saja, khan gampang, mengapa dibuat repot?. [gitu aja kok repot]

Maka anda pembaca yang budiman jangan takut ketika melihat teman anda yang salafy marah, mencak-mencak dan bisa jadi kejang ketika anda membicarakan masalah ini. Itu adalah reaksi yang biasa muncul dan tidak perlu ditakutkan. Walaupun kadar mencak-mencak dan kejangnya kadang berbeda antara yang amatir [kroco alias salafy gadungan]dan ulama mereka yang menyimpang.

Mengapa mereka alergi? Wajar saja, karena masalah iman pada Al Qur’an menjadi salah satu pemisah antara kaum muslimin dan mereka yang “non muslim”. Artinya mudah bagi seorang muslim awam untuk memahami bahwa siapa yang tidak percaya pada Al Qur’an adalah bukan orang muslim. Dengan begitu orang awam akan mudah menilai bahwa salafy adalah agama yang sesat. Juga karena salafy masih ingin dianggap sebagai kaum muslimin. Karena dengan masih dianggap sebagai muslim akan membuat misi dakwah salafy lebih mudah.

Jika teman anda yang salafy marah ketika diajak dialog masalah perubahan Al Qur’an, maka segera anda diam, biarkan dia menyelesaikan marahnya. Jika marahnya sudah mereda, beritahukan padanya bahwa hal itu tercantum dalam kitab-kitab induk salafy dan hadis-hadisnya yang shahih yang dia belum menelaahnya, katakan padanya bahwa orang yang belum tahu tidak layak untuk marah sebelum menelaah. Tetapi jika kemarahan dan emosinya begitu menggelora sampai ia meneriaki bahwa anda sesat, antek zionis yahudi laknatullah atau mungkin tangannya meraih pentungan atau benda yang ada di dekatnya dan mengarahkannya ke kepala anda, segera ambil benda apa pun untuk melindungi kepala anda, dan sebaiknya anda segera pergi sebelum benda itu benar-benar mendarat di kepala dan menimbulkan masalah bagi anda. Maklumlah, seorang penganut salafy sering ekstrim sekali kalau sudah menghadapi orang yang mereka anggap sesat.

Selain marah dan mencak-mencak ada juga reaksi lain yang muncul saat diajak dialog, yaitu dengan mengajak anda meneruskan dialog. Lalu kira-kira apa jawaban yang akan keluar dari penganut salafy?

1.Membela diri
Mereka membela diri dengan mengklaim bahwa riwayat yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah dhaif, biasanya mereka juga mengatakan bahwa hadis itu harus bersanad shahih karena jika tidak maka harus ditolak. Tentu saja ucapan mereka ini adalah dusta. Buktinya silakan pembaca yang budiman membuka kembali tulisan satria di bagian pertama dan kedua, disana sudah disebutkan bukti-bukti bahwa riwayat yang menyatakan adanya perubahan Al Qur’an di sisi salafy adalah shahih. Ulama salafy tidak bisa berkelit akan fakta ini sehingga satu-satunya usaha mereka untuk menutupi keyakinannya adalah mengelabui orang islam yang awam yang hampir sebagian besar minim sekali ilmunya tentang sanad hadis.

2. Takwil Nasakh
Di antara cara mereka adalah dengan mengakui adanya riwayat-riwayat itu, tetapi mereka memiliki pemahaman lain, yaitu katanya riwayat-riwayat itu memiliki makna yang berbeda dengan yang tertulis, maksud ulama salafy dengan pernyataan itu adalah mengatakan bahwa sebenarnya perubahan Al Qur’an yang dimaksud adalah nasakh tilawah. Ini sungguh aneh, karena dalam pernyataan para sahabat Nabi pernyataan yang jelas menunjukkan terjadinya perubahan, contoh nyata riwayat yang ada di bagian kedua, Ibnu Umar mengatakan “ayat Al Qur’an yang hilang” bukan yang dinasakah, sejak kapan hilang sama artinya dengan nasakh. Atau barangkali penganut salafy itu belum bisa membaca dan menulis bahasa arab. Lalu bagaimana dengan “kawan kita” yang mencoba menafsirkan riwayat salafy dengan makna lain? Barangkali pembaca bingung mengapa ada “teman kita yang salafy” begitu berani memahami sendiri isi riwayat salafy dan mendustakan aqidah sahabat Nabi. Satria juga bingung dengan ulah penganut agama salafy ini.

3.Riwayat seperti itu tidak ada.
Lebih parah lagi, bisa jadi kawan anda itu menyangkal adanya riwayat perubahan Al Qur’an dalam kitab pegangan salafy. Barangkali anda yang telah membaca bagian pertama dan kedua makalah ini akan bertambah bingung, bagaimana tidak? Riwayat-riwayat tersebut telah dikutip oleh para Ulama besar salafy. Lalu mana yang benar? Katakan saja pada kawan anda, barangkali anda belum pernah menelaah kitab salafy karena anda tidak bisa berbahasa arab. Atau anda adalah korban penipuan dari ustad salafy anda yang sengaja menipu agar anda tetap masuk salafy Karena jika anda tahu bahwa salafy meyakini perubahan Al Qur’an, ustad anda takut kalau anda keluar dari salafy.Mungkin anda pembaca yang budiman tidak heran ketika yang menyangkal adalah orang awam yang polos, tetapi jika yang menyangkal adalah ulama salafy maka anda perlu merasa heran. Tapi mungkin sebagian pembaca sudah mengetahui watak ulama salafy yang mempermainkan ayat-ayat Allah dan hadis Rasul untuk kepentingan hawa nafsunya. Naudzubillah.

Pada makalah ini mari para pembaca yang budiman melihat riwayat yang ditulis oleh ulama besar salafy Nuruddin Ali bin Abu Bakar Al Haitsami dalam Majma az Zawaid jilid 7 hal 311

وعن عبد الرحمن بن يزيد – يعني النخعي – قال : كان عبد الله يحك المعوذتين من مصاحفه ويقول : إنهما ليستا من كتاب الله تبارك وتعالى

Dari Abdurrahman bin Yazid –yaitu An Nakha’i- berkata “Abdullah bin Mas’ud menghapus Mu’awidzatain (Al Falaq dan An Nas) dari mushafnya dan berkata “itu bukan bagian dari Kitab Allah”.

Haitsami mengomentari riwayat ini dengan berkata

رواه عبد الله بن أحمد والطبراني ورجال عبد الله رجال الصحيح ورجال الطبراني ثقات

Telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dan Thabrani, dimana perawi Abdullah adalah perawi shahih dan perawi Thabrani adalah orang-orang tsiqat terpercaya.

Ulama kenamaan salafy Jalaludin Suyuthi dalam kitab Itqan jilid 1 hal 213 menuliskan

وأخرج عبد الله بن أحمد في زيادات المسند والطبراني وابن مردويه من طريق الأعمش عن أبي إسحاق عن عبد الرحمن بن يزيد النخعي قال كان عبد الله بن مسعود يحك المعوذتين من مصاحفه ويقول إنهما ليستا من كتاب الله
وأخرج البزار والطبراني من وجه آخر عنه أنه كان يحك المعوذتين من المصحف ويقول إنما أمر النبي أن يتعوذ بهما وكان لا يقرأ بهما أسانيده صحيحة

Dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Ziyadah Musnad, Thabrani dan Ibnu Mardawayh dengan jalan ‘Amasy dari Abi Ishaq dari Abdurrahman bin Yazid An Nakha’I yang berkata “Abdullah bin Mas’ud menghapus Mu’awidzatain (Al Falaq dan An Nas) dari mushafnya dan berkata “itu bukan bagian dari Kitab Allah”. Dan dikeluarkan oleh Bazzar dan Thabrani dengan perawi yang sama bahwa “Abdullah bin Mas’ud menghapus Mu’awidzatain (Al Falaq dan An Nas) dari mushafnya dan berkata “sesungguhnya Nabi memerintahkan itu sebagai ta’awudz” sehingga dia tidak menuliskannya. Semua riwayat ini shahih sanad-sanadnya.

Dan mungkin pembaca masih ingat dengan hadis yang masyhur dari mahzab salafy yang diriwayatkan oleh ulama panutan salafy Bukhari Muslim dan Tirmidzi [kitab Sunan Tirmidzi jilid 5 hal 674]

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم خذوا القرآن من أربعة من ابن مسعود و أبي بن كعب و معاذ بن جبل و سالم مولى أبي حذيفة

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ambillah al Qur’an dari empat orang yiatu Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal dan Salim maula abi huzaifah.

Tirmizi mengatakan kalau hadis ini hasan shahih dan ulama salafy yang terkenal Albani Al Mutanaqidh juga menshahihkan hadis ini.

Lagi-lagi dalam mahzab salafy Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umat islam untuk mengambil Al Qur’an salah satunya dari Ibnu Mas’ud. Tentu saja jika Ibnu Mas’ud ini sesat atau menyimpang maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pasti tidak akan mengatakan “ambillah Al Qur’an dari Ibnu Mas’ud”.

Perhatikanlah wahai pembaca yang budiman kitab panutan salafy memuat riwayat shahih kalau Abdullah bin Mas’ud dengan tegas mengatakan kalau Mu’awidzatain yaitu surah Al Falaq dan An Nas adalah bukan bagian dari kitab Allah Al Quranul Karim. Jelas sekali ini adalah aqidah yang diyakini oleh sahabat Ibnu Mas’ud dan telah dishahihkan oleh ulama salafy sendiri. Sehingga sebagai seorang salafy sejati usdah sewajarnya untuk mengikuti aqidah Ibnu Mas’ud sebagai sahabat penghulu para salaf yaitu meyakini kalau Al Falaq dan An Nas bukan bagian dari Al Qur’an. Aqidah salafy ini jelas bertentangan dengan aqidah kita umat islam yang sudah sangat mengenal bahwa Al Falaq dan An Nas adalah dua surah yang tertera dalam Al Qur’an.

Dalih apakah yang akan dikemukakan oleh para penganut salafy tersebut. Mau mendhaifkan maka jelas sekali kebodohannya bukankah ulama mereka telah menshahihkannya, mau berkata nasakh tilawah sudah jelas gak nyambung, riwayat itu mengatakan kalau Al Qur’an sekarang sudah mengalami penambahan dua surah yang seharusnya tidak termasuk Al Qur’an yaitu Al Falaq dan An Nas. Apakah sesuatu yang dinasakh justru malah bertambah? Jika iya maka salafy itu memang parah sekali otaknya. Mau menakwilkan, lihat baik-baik pembaca budiman sahabat Ibnu Mas’ud berkata “itu bukan bagian dari Kitab Allah” adakah yang lebih jelas dari ini. Menakwilkan hanyalah alasan yang dicari-cari. Apalagi mau bilang riwayat itu nggak ada, malah menunjukkan kedunguan salafy sendiri.

Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menolak hadis ini tetapi bagaimana mungkin seorang salafy bisa mendustakan hadis yang shahih, jika mereka berani maka bagaimana kita bisa menjamin keshahihan hadis-hadis yang terdapat dalam kitab-kitab induk salafy. Bukankah mereka senantiasa berdengung akan kehandalan ilmu sanad hadis dalam mahzab mereka. Sudah jelas mendustakan hadis shahih berarti meruntuhkan pilar berdirinya manhaj salafy yang sudah tentu mustahil dilakukan oleh seorang salafy sejati. Waspadalah wahai pembaca yang budiman. Memang akidah sesat versi salafy yang meyakini perubahan Al Qur’an ini harus diwaspadai dan dikecam habis-habisan karena keyakinan ini merupakan pemisah yang nyata antara kita umat islam dengan mereka penganut agama salafy.

Al Qur’an Di Mata Salafy [2]

Pada bagian pertama, satria sudah menyebutkan bahwa “adanya perubahan Al Qur’an” adalah keyakinan yang sifatnya aksiomatis di dalam mahzab salafy. Tentu saja ini bukan sekedar tuduhan kosong belaka, karena banyak kitab mu’tabar mahzab salafy telah menyebutkan hadis-hadis tentang perubahan dalam Al Qur’an. Hadis-hadis tersebut bukan sembarang hadis tetapi hadis yang shahih dimana menunjukkan dengan nyata kepada kita semua bahwa Sahabat Nabi generasi terbaik pujaan kaum salafy an nashibi telah meyakini adanya tahrif Al Qur’anul Karim. Naudzubillah.

Sebenarnya memang menyakitkan memberitahukan hal ini kepada teman-teman dan saudara pembaca yang salafy. Tetapi satria yakin kebenaran itu walaupun pahit tetap berharga untuk disampaikan. Bagi teman-teman salafy tentu saja sudah menjadi aksiomatis bahwa aqidah atau keyakinan dan ibadah hendaknya berdasarkan Al Qur’anul Karim dan Al hadis berdasarkan pemahaman Sahabat Nabi sebagai penghulu kaum Salaf. Jadi sudah tentu jika sahabat Nabi sendiri meyakini adanya perubahan dalam Al Qur’an maka sudah seharusnya seorang salafy sejati mengikuti aqidah sahabat tersebut.

Dalam kitab Fadhail Al Qur’an oleh Abu Ubaid Qasim bin Sallam jilid 2 hal 135 disebutkan riwayat
Ismail bin Ibrahim menceritakan hadis kepada kami dari Ayub dari Nafi dari Ibnu Umar yang berkata “Janganlah ada di antara kalian yang mengatakan “aku telah menemukan seluruh Al Qur’an”. Apakah ia benar-benar tahu seluruh Al Qur’an itu? Karena telah banyak Al Qur’an yang hilang. Oleh karena itu seharusnya orang mengatakan “aku telah menemukan Al Qur’an yang tampak saja”

Hadis ini ternyata juga dimuat oleh para Ulama tafsir kenamaan Salafy seperti Jalaludin As Suyuthi dalam Tafsir Durr Al Mansur jilid 1 hal 106 dan Al Alusi dalam Ruhul Ma’ani jilid 1 hal 25.

Hadis diatas disampaikan oleh para perawi yang terpercaya sampai ke Ibnu Umar sehingga tidak diragukan lagi kalau Ibnu Umar benar-benar mengucapkannya. Inilah para perawi hadis tersebut

Ismail bin Ibrahim telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib At Tahzib jilid 1 hal 90 dan dinyatakan sebagai hujjah oleh Dzahabi dalam kitab Kashif jilid 1 hal 242

Ayub bin Abi Tamimah Al Sakhtiani disebutkan oleh Ibnu Hajar sebagai tsiqah,tsabit dan hujjah dalam kitab Taqrib jilid 1 hal 116

Nafi’ maula Ibnu Umar disebutkan Ibnu Hajar sebagai tsiqah, tsabit dalam kitab Taqrib jilid 2 hal 239.

Ibnu Umar adalah sahabat Nabi, yang dalam aqidah mahzab salafy adalah adil dan dijadikan hujjah perkataannya.

Maka dari itu sudah seharusnya seorang salafy sejati meyakini bahwa sudah banyak Al Qur’an yang hilang dan Al Qur’an yang ada sekarang hanyalah apa yang tampak saja. Aqidah ini diyakini oleh sahabat yang adil Ibnu Umar . Beliau juga mengajarkan kepada orang-orang agar meyakini hal tersebut.

Memang ada saja orang-orang nyeleneh yang menyimpang dari mahzab salafy, mereka menentang aqidah Ibnu Umar dan mengatakan kalau sebenarnya Al Qur’an banyak yang dimaksud itu adalah sudah dinasakh sehingga yang ada adalah yang Nampak sekarang. Sudah jelas hal ini menyimpang dari aqidah penghulu salaf Ibnu Umar, dalam hadis di atas ia tidak mengatakan Al Qur’an tersebut dinasakh, tetapi ia berkata “dzahab”. Dalam bahasa Arab dzahab berarti hilang, artinya sesuatu yang ada kemudian menjadi tidak ada dan tidak tahu kemana perginya. Lagipula kalau memang yang dimaksud Ibnu Umar adalah nasakh maka tentu ia akan mengatakan “telah banyak Al Qur’an dinasakh” bukan “telah banyak al Qur’an hilang” .

Selain itu jika ada ayat Al Qur’an yang dinasakh sehingga tidak berlaku lagi maka ayat itu bukan lagi Al Qur’an sehingga Al Qur’an yang ada sekarang tetap adalah seluruh Al Qur’an. Jadi Ibnu Umar tidak perlu merasa gusar jika ada yang mengatakan “tahu seluruh al Qur’an”. Tetapi hadis di atas justru mengatakan Ibnu Umar menentang orang yang mengatakan tahu seluruh Al Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa menurut Aqidah Ibnu Umar banyak Al Qur’an yang sudah hilang sehingga tidak pantas seseorang mengaku tahu keseluruhan Al Qur’an. Ini membuktikan kalau Ibnu Umar tidak bicara soal nasakh. Oleh karena itu perkataan nasakh adalah aqidah bid’ah yang menyimpang dari mahzab salafy.

Al Qur’an Di Mata Salafy [1]

Setiap salafy harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur’an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya.

Jika kita menelaah literatur-literatur salafy, maka akan anda temui banyak riwayat juga pernyataan baik sahabat maupun tabiin yang merupakan rujukan para salafy yang menegaskan bahwa Al Qur’an yang dijadikan pedoman umat islam saat ini sudah bukan asli lagi, alias sudah dirubah. Jadi kitab suci yang ada pada umat islam sejak dulu sampai hari ini menurut salafy sudah bukan otentik lagi, alias ada ayat-ayat yang bukan lagi wahyu Allah, tetapi ada juga hasil tulisan tangan manusia. Selain diubah, nukilan-nukilan itu juga menyatakan bahwa ada ayat-ayat dalam Al Qur’an yang dihapus. Intinya, Al Qur’an yang ada sekarang ini tidak seperti yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad SAAW.
Sampai di sini para pembaca mungkin merasa heran dan bertanya-tanya, apakah benar salafy menganggap demikian? Mungkin anda belum pernah atau malah sudah pernah mendengar hal ini sebelumnya dan mengklarifikasi kepada teman atau tetangga anda yang salafy, dan dijawab oleh mereka bahwa hal itu semata-mata adalah fitnah dan tuduhan yang dihembuskan oleh musuh-musuh salafy, dari mereka yang ingin memecah belah umat Islam. Lebih jauh lagi, mereka akan menuduh orang yang menebarkan hal itu sebagai antek zionis yahudi. Astaghfirullah

Mengklarifikasikan sebuah tuduhan adalah sikap yang benar, dan seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang objektif, tetapi hendaknya kita tidak salah alamat dalam mengklarifikasi sebuah berita. Seperti kasus kita kali ini, mestinya kita mengklarifikasi tuduhan ini dengan melihat langsung ke literatur salafy untuk mengecek kebenaran berita ini, mengecek apakah benar ada kitab-kitab salafy yang menyatakan demikian atau tidak ada.
Mengapa klarifikasi ke tetangga, teman atau dosen anda yang salafy adalah salah alamat? Ada beberapa sebab bisa jadi teman, tetangga dan dosen anda belum pernah mendapat akses ke literatur itu, bisa jadi dia memang sudah mengakses tetapi dia mengingkari hal itu. Bisa jadi dia adalah “anggota biasa” yang tidak tahu apa-apa, banyak kemungkinan. Tetapi semua itu tidak akan mengubah apa yang tercantum dalam kitab-kitab salafy. Di antaranya

عن عمر بن الخطاب قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم القرآن ألف ألف حرف وسبعة وعشرون ألف حرف فمن قرأه صابرا محتسبا كان له بكل حرف زوجة من الحور العين
Dari Umar bin Khaththab yang berkata bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda “Al Qur’an terdiri dari sejuta dua puluh tujuh ribu huruf , barang siapa membacanya dengan mengharapkan pahala maka baginya akan diberikan balasan setiap hurufnya seorang istri dari bidadari”. Mu’jam Al Awsath Thabrani jilid 6 hal 361 no 6616

Ulama salafy kenamaan Thabrani tidak mengkritik atau mencela hadis tersebut beliau hanya mengomentari dengan kata-kata
لايروى هذا الحديث عن عمر رضي الله عنه إلا بهذا الإسناد تفرد به حفص بن ميسرة
tidak diriwayatkan hadis dari umar radiyallahuanhu tersebut kecuali dengan sanad yang tafarrud (sendiri) oleh Hafsh bin Maisarah

Thabrani seolah mau mengatakan satu-satunya keraguan pada hadis tersebut adalah Hafsh bin Maisarah tafarrud dalam meriwayatkannya. Padahal menurut keterangan Dzahabi dalam Al Kasyf no 1167, Hafsh bin Maisarah dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim mengatakan kalau hadisnya baik. Jadi hadis di atas sanadnya shahih karena tafarrud orang yang tsiqah tetap diterima.

Padahal huruf-huruf yang ada dalam Al Qur’an sekarang jumlahnya tidak melebihi dari sepertiga jumlah yang disebutkan hadis di atas. Kemana sisanya huruf-huruf itu?. Berdasarkan hadis di atas Al Qur’an sekarang sudah mengalami perubahan. Naudzubillah

Jika kita telaah lagi pernyataan-pernyataan dalam literatur salafy maka kita akan sampai pada sebuah kesimpulan berbahaya, yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesimpulan ini berbunyi

Setiap salafy harus mengingkari keaslian Al Qur’an, jika masih beriman bahwa Al Qur’an sekarang ini adalah asli otentik seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAAW, maka dia bukan salafy.

Ada kalimat lain untuk kesimpulan di atas, yaitu setiap salafy harus meyakini bahwa al qur’an telah dirubah, ditambah dan dikurangi. Seseorang tidak bisa menjadi salafy jika tidak meyakini hal itu. Sehingga dapat kita katakan bahwa seorang salafy terpaksa meyakini hal itu jika masih ingin menjadi salafy. Di sini meyakini adanya penambahan, pengurangan dan perubahan terhadap ayat Al Qur’an menjadi sebuah konsekwensi yang melekat, dan tidak pernah akan lepas, bagi seorang penganut salafy.

Sangat mengerikan bahwa dalam literatur shahih salafy banyak terdapat keterangan kalau para sahabat dan tabiin telah meyakini Al Qur’an yang berbeda dengan Al Qur’an yang ada sekarang. Bisa dikatakan juga, mereka yang meyakini bahwa Al Qur’an masih asli tidak pernah akan menjadi salafy karena mahzab salafy mengharuskan pemeluknya untuk mengikuti agama sesuai pemahaman sahabat dan tabiin sebagai penghulu para salafy.

Satria mohon maaf pada pembaca karena barangkali telah membuat pembaca agak sedikit bingung –plus terkejut-. Tetapi ini adalah kenyataan yang harus kita ketahui. Barangkali anda akan bertanya mengenai hal-hal yang mendasari kesimpulan satria di atas, ini adalah pertanyaan wajar, dan satria akan mengetengahkan bukti-bukti dari pernyataan di atas.

Satria katakan di atas bahwa yang akan mencapai kesimpulan seperti itu bukanlah satria pribadi, tetapi kita semua, seluruh pembaca makalah ini. Satria mengajak diri satria sendiri dan pembaca yang budiman untuk merasa tidak puas dengan omongan orang tentang sesuatu, sebelum merujuk pada sumber otentik dari sesuatu itu.

Anda jangan puas hanya dengan mendengar omongan dan –mungkin- bualan dari teman anda yang salafy, tapi hendaknya kita melangkah jauh untuk memberanikan diri menelaah sumber-sumber otentik mazhab salafy. Pembaca akan mendapatkan apa yang tersembunyi dari mazhab salafy, dan satria berusaha untuk menampilkan sumber otentik lengkap dengan nomor jilid dan halaman.

Telah kita bahas di atas bahwa keyakinan terhadap perubahan Al Qur’an adalah konsekwensi dari mazhab salafy. Ulama salafy klasik benar-benar menyadari berbagai literatur shahih tentang hal ini, maka keyakinan tentang perubahan Al Qur’an menjadi sebuah aksioma dalam mazhab salafy –yang tidak bisa diganggu gugat-. Apa yang mendorong para ulama salafy klasik memasukkan keyakinan ini sebagai aksioma? Karena mereka sadar bahwa menolak literatur shahih itu sama saja dengan menolak mazhab salafy.